Tampilkan postingan dengan label RESENSI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RESENSI. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 April 2018

Resensi Buku Puisi Pada Debar Akhir Pekan

TAMASYA BATIN DI AKHIR PEKAN

oleh: Doni Muhamad Nur*

Karya Rendy Jean Satria, Penerbit Basabasi
Konon katanya, menulis puisi itu mudah, tapi untuk memuisi itu sulit. Jadi, secara hakikat bahwa sebuah puisi ditulis tidak bisa sembarang jadi, sebab; menulis sebuah puisi harus melewati banyak rambu yang sudah disepakati, menjadi sebuah teori—begitulah menurut aturan yang ada, yang dipelajari di bangku akademisi sastra. Apakah sebuah puisi yang terlahir ditulis oleh seorang mampu menuangkan aturan baku itu semua? Atau hanya sebagian aturan bakunya saja? Ataukah tidak ada sama sekali menggunakan aturan baku yang sudah disepakati menjadi sebuah teori tersebut? Teori lahir berdasarkan pengalaman yang kemudian dispakati atau diamini mayor. Jadi, bisa dikata bahwa sebuah teori itu benar, ketika Anda sepakat. 

Saya bukanlah lulusan sastra, terlebih ahli sastra; khususnya sastra puisi. Jadi, dalam tulisan yang hendak saya tuliskan di bawah ini mohon maaf jika Anda tidak mendapatkan apa yang digambarkan di paragraf awal, sebagai ilustrasi dalam hakikat menulis puisi yang sudah ada aturan bakunya berdasarkan teori akademisi. Lantas apa yang ingin saya tawarkan dalam tulisan ini? Saya sendiri tidak tahu. Ya, tidak tahu. Memang benar tidak tahu dan serius tidak tahu; hanya yang saya rasakan pengalaman dari jejak baca, itu saja. Ya, itu saja; tidak lebih. 

Jejak baca selalu meninggalkan kesan yang berlainan bagi semua pembaca pada satu objek yang sama. Konon katanya hal ini pun dipengaruhi oleh suasana batin tiap para pembaca yang berbeda-beda dengan objek yang dibacanya. Ada juga pengalaman batin yang sama atau mirip dengan objek batin yang dibacanya sehingga objek batin yang sudah dibacanya oleh seorang pembaca itu seolah-olah mewakili pengalaman empiriknya si seorang pembaca tersebut. Ada juga ketika seorang pembaca, membaca sebuah objek berusaha netral dan tidak mengkaitkan dengan teori yang berlaku; hanya membaca saja sifatnya, tidak lebih. Ada juga seorang pembaca yang ketika membaca sebuah objek langsung mengkaitkannya dengan teori yang tentu saja sudah dikuasai dan dibacanya terlebih dulu sehingga membaca sebuah objek menjadi sebuah pekerjaan dalam projek penelitiannya. 

Lantas, saya termasuk pembaca yang mana? Saya sendiri pun tidak tahu termasuk yang mana; ini serius. Terang dan jelas, saya hanya menikmati antrean kata-kata yang menjadi rangkaian frasa, klausa dan kalimat pada sebuah bait puisi yang menjadi utuh sebuah tubuh puisi. Lamat-lamat saya rampung membaca utuh sebuah antologi puisi yang diberi judul Pada Debar Akhir Pekan karya penyair muda Rendy Jean Satria (RJS) dengan tiga sub judul; puisi masih bekerja untukmu, puisi masih bisa kutulis, ditegur kata-kata, dan kesemua sub judul itu jika dicermati selintas-pintas menjadi sebuah isyarat yang kembali pada judul utama antologi puisi; Pada Debar Akhir Pekan yang dicetak-terbitkan oleh Penerbit Basabasi, Februari 2018 dengan penyunting Tia Setiadi.

Ada apa dengan debar akhir pekan yang dirasakan oleh penyair muda RJS dalam perjalanan batinya tersebut, jika dikaitkan konon katanya pondasi sebuah puisi bisa lahir berdasarkan dari pengalaman empirik; baik empirik murni mau pun empirik terapan. Benarkah itu? Lamat-lamat pada hasil jejak baca, saya menemukan hal itu dalam kumpulan antologi tunggalnya: di antara gang-gang/ Kecil penuh coretan tangan, lorong berlumut/ Warna-warna perasaan, … (Di Jalan Nyengsret, Bandung; 2016). Lalu: “Temani aku, dengan resiko apa pun/ Jangan biarkan aku tergerus sedu sedan.”, (Padamu yang Sabar Mendengar; 2016). Kemudian: Bagai sebatang pohon segar di depan halaman/ Yang tumbuh dalam ketidakpastian/ Dalam cuaca yang samar-samar (Sajak yang Ditulis pada Usia 26 Tahun; 2015).

Dan: Di kamar belakang/ Paling Pedih itu, kakrus-kaktus mati diusapi/ Waktu dan kehilangan kesakitannya (Kami Mencintaimu, Kami Juga Membencimu; 2016), dan larik lainnya. Rangkaian kalimat dalam beberapa larik puisinya ini, bagi saya serupa (boleh dikatakan: merupakan: ya) gambaran murni yang dialami olehnya yang menjadi debar hingga terbawa ke akhir pekan dalam alur hidup dan kehidupan di kesehariannya. Adakah rangkaian kalimat tersebut jika disatukan menjadi sebuah kunci kegelisahan batinnya RJS selama ini? Entahlah, sebab hakikatnya dari hasil jejak membaca hanya mampu menduga dalam arti simpulan dari hasil jejak membaca itu hanya melahirkan: mampu mendekati pada kenyataan yang sudah dialami, atau tengah (boleh jadi) menjadi kecemasannya sampai kini.

Terang dan jelas, ketika saya mencoba memahami makna kandungan napas Pada Debar Akhir Pekan, ada banyak endapan waktu yang kembali dikeruk, sepertihalnya belalai bulldozer yang mampu menguras habis endapan tersebut dari sebuah kubangan sisa penggalian pasir besi, semisal; hingga kubangan itu kembali bisa bersih dari segala rupa sampah waktu yang dihanyutkan oleh banjir kenangan, yang menderas datang dari batinnya RJS yang tertampung di sana. Kemudian kubangan itu didatangi lagi oleh RJS yang kini menjelma bulldozer; tentu saja, kedatangannya itu untuk mengeruknya sampai bersih, supaya mampu menampung air hujan yang datang dari musim yang lain dengan jernih, tentunya. Tetapi endapan-endapan ragam sampah waktu yang dikeruk-kurasnya itu menjelma ikan-ikan yang berloncatan dan kembali berenang di kubangan tersebut yang berubah menjadi kolam batin dengan diberi papan nama Pada Debar Akhir Pekan yang memuat ragam perjalanan RJS dengan segudang kenangannya. Kenangan-kenangan tersebut selayaknya sebuah objek wisata yang meninggalkan kesan hingga sulit untuk dilupakan. 

Ya, sebuah kenangan apa pun itu kenangannya, memang sulit untuk dilupakan dalam satu tarikan napas panjang, meski kini, katakanlah dengan seiringnya waktu berjalan, bahwa debit air yang mengisi kubangan tersebut dari curah hujan yang turun di musim lain. Maka sangatlah wajar jika RJS berkata: puisiku masih bekerja untukmu, artinya; ruang luas batin RJS yang terpetak-petak masih menyimpan kamar-kamar kenangan untuk kembali didatangi, dihisap sari patinya dan jadilah tubuh-tubuh puisi utuh, sehingga RJS berkata lagi; puisi masih bisa kutulis. Kemudian puisi-puisi yang ditulisnya dibaca lagi oleh dirinya, sehingga RJS kembali berkata; ditegur kata-kata yang menandakan bahwa hakikat sebuah puisi adalah perenungan, baik untuk kembali direnungkan oleh dirinya sendiri pun publik pembacanya. Di mana sebuah puisi tidak bisa lepas dari alur napas hidup itu sendiri, sehingga bisa dikata, bahwa hidup adalah rangkaian perjalanan yang harus dihayati untuk dimengerti.

Hemat saya, pada dasarnya puisi-puisi yang terkandung di dalam antologi ini, sesungguhnya hasil dari endapan-endapan sampah waktu di masa lalunya yang bermetamorfosis jadi ikan-ikan dengan rasa masa lalu yang dikemas menjadi rasa masa kini (baca: jejak terbit, 2018) sehingga samar dalam jejak baca pada pengalaman empirik murni batinnya; hal ini terjadi, sebab adanya perkawinkan dengan pengalaman empirik terapan, baik dari hasil asupan yang didapatnya dari segudang bacaanya pun dari mendengar curhatan, dan lainnya yang dekemas dengan cukup apik dan intens dalam pemilihan kata dalam bahasa sehari-hari.

Akhirnya satu kesatuan dari ragam perjalanan empiriknya menjadi samar dalam jejak murni rasanya itu, ketika sudah menjadi tubuh-tubuh utuh puisi yang dibingkainya dengan judul Pada Debar Akhir Pekan, dikitabkan oleh Basabasi dengan di dalamnya menawarkan ragam rasa yang bukan sekedar basa-basi semata; ada rasa sendu, melankolis, religi, riang dan gembira yang beraduk menjadi satu—bergemuruh di sebalik dadanya (antpologi puisi tunggal) RJS tersebut—selayaknya seorang remaja yang tengah dimabuk ragam rasa. Ragam rasa itu terlahir tentu saja tidak bisa dilepaskan dari hakikat cinta itu sendiri pada jejak kenangan dalam alur perjalanan hidup dan kehidupan yang sudah dan tengah dijalankannya tersebut.

Sehingga bisa dikata, bahwa sebuah karya apa pun itu bentuknya (baik itu puisi), terlahir dari pecahnya konvensi di masyarakat yang menjadi penanda bagi si penulisnya sendiri yang subjektif sifatnya, tetapi kesubjektifan itu terkadang masih bisa disepakati publik pembacanya; sebagaimana satu buah puisinya ini:

Pada kamu yang sedang tertidur
Baik-baiklah di dalam mimpimu
Ajaklah aku menemuimu di dalamnya
Walau di dunia nyata kita tak sering
Bertemu. Barangkali di mimpimu
Kita bisa saling mengucapkan
Cinta, berciuman dan pura-pura
Menjadi satu keluarga
 

Di dalam mimpi tak ada dosa 
Kita bisa melebur dalam ranjang 
Tak ada yang kehilangan
Tak ada air mata yang jatuh
Tak ada yang tersakiti
 

Jangan terlalu cepat terbangun
Sebab diam-diam aku ingin
Menjadi abadi di dalam mimpimu
Menggali kuburku di sana
Agar senantiasa kamu bisa
Mendoakanmu, tanpa pernah kehilangan

Puisi itu diberi judul Pada Mimpi Tidurmu yang ditulis pada tahun 2015. Terlepas dari teori dalam menulis utuh sebuah puisi yang saya kemukakan di paragraf awal; saya pikir, antologi puisi tunggalnya RJS ini layak untuk diapresiasi publik, mengapa? Seperti Sutardji bilang atau lebih tegasnya, menurut Sutardji; sebuah tulisan bisa disebut puisi kalau diniatkan penulisnya sebagai puisi. Saya kira kumpulan puisi ini juga demikian, kalau RJS meniatkannya selesai menjadi sebuah antologi puisi berarti sudah selesai menjadi utuh sebuah antologi puisi. Selamat tamasya batin di akhir pekan. Salam sastra. []

*penulis adalah penyair, tinggal di Tasikmalaya

Senin, 19 Januari 2015

HIJAB (Review Film Hijab)

Oleh Rendy Jean Satria


"There are secrets in all families"
(Jane Austin)



Kita perlu film dengan kualitas cerita dan kualitas gambar yang sama-sama mumpuni. Ketika dua hal itu menjadi satu, tak bisa tidak, film tersebut dipastikan akan menarik dan berbobot. Karya-karya film Hanung Bramantyo, selama ini saya rasa ada pada dua hal itu. Dan itu juga terlihat untuk film terbarunya, Hijab (Dapur Film dan Ampuh Entertainment 2015).  

Barangkali film Hijab ini, adalah sesuatu yang selama ini menggelisahkan Hanung Bramantyo dan Zaskia Adya Mecca (penggagas cerita). Hijab, di Indonesia sendiri pun, masih ambigu Antara fashion kekinian atau faktor perintah agama.  Hanung, membaca gejala itu dengan cerdas - meskipun dalam arti yang defensif: Hijab sebagai identitas kultural kaum muslim perempuan. Disajikan oleh Hanung dalam bentuk komedi muslim. 

Film Hijab bercerita tentang empat orang perempuan, Sari (Zaskia Adya Mecca), Tata (Tika Bravani)  Bia (Carissa Puteri) dan Anin (Natasha Rizky) dibuka dengan teknik monolog wawancara di depan kamera, mereka bercerita tentang awal mula mereka memakai hijab, merintis karir dan bekerja tanpa sepengetahuan suami.  Ada yang terjebak pada satu peristiwa, ada yang menutupi rambutnya yang botak, dan ada yang tak sengaja bertemu dengan pasangan keturunan arab yang ketat dalam berpandangan.  Sari yang bersuamikan Gamal (Mike Lucock), laki-laki keturunan arab yang apa-apa dikerjakan sang istri harus sesuai perintah agama. Tak boleh bekerja, dan terpenjara dalam kata-kata yang ambisius dari sang suami. Haram, haram, haram. Bia, yang  bersuamikan Matnur (Nino Fernandez) artis sinetron yang terkenal, yang tak rela kalau sang Istri bekerja karena penghasilannya sebagai artis cukup mampu membiayai mereka, Tata, yang bersuamikan Ujul (Ananda Omesh) fotografer jurnalistik yang idealis dan hanya Anin, yang belum menikah dan berpacaran dengan sutradara nyentrik Chaky (Dion Wiyoko).

Kehidupan mereka para istri, melulu ditopang oleh penghasilan sang suami. Suami di sini, saya kira simbol kemakmuran dan istri, sebagai simbol penerima awal dari kemakmuran itu. Tapi, tak sampai di situ saja, kegelisahan para istri, adalah mereka ingin bekerja, tanpa sepengetahuan suami, tanpa modal dari suami. Berawal dari kegelisahan itu. Para istri-istri pun bekerja dengan membuka penjualan online, yang berfokus pada penjualan hijab. Dan dari di sinilah semua konflik parodi ini bermula dan berhasil menciptakan adegan-adegan peta umpet ala arahan Hanung. Saya rasa mengena. Penonton pun diajak untuk cair  dari prolog sampai epilog di dalam film Hijab, karena sajiannya yang lucu dan humor. Film ini bisa dipahami dengan baik oleh penonton. 

Sebagai penggaggas cerita film Hijab, Zaskia Adya Mecca, seperti ingin mewakili para karakter perempuan di Indonesia yang berhijab, mengkritik tentang batasan-batasan seorang perempuan, dan menjawab kegelisahan para istri yang menjalani karirnya. Dengan kerja kreatifnya yang cerdas, berani dan nyeletuk, film ini tersampaikan dengan santai dan tidak tegang. Gambar-gambar diciptakan dengan struktur yang menarik, cerah, berwarna. Sangat estetik dan artistik.

Dan saya yang selama ini mengikuti film-film Hanung Bramantyo, merasa terobati kerinduan saya, mengenai film-film Hanung Bramantyo, yang penuh celetukan komedi satire, menggelitik, kembali ke awal-awal film Hanung, seperti Jomblo (2006) maupun Get Married (2007). Saya meyakini, Hanung dengan segala referensi bacaan-bacaannya yang meluas, yang selama beberapa tahun terakhir film-filmnya bernada serius, nyeleneh, kontroversi dan filosofis. Mampu kembali menghadirkan film komedi cerdas ala Hanung, lewat Film Hijab. Awal Tahun 2015, film Indonesia, dibuka dengan cukup mengesankan.


 2015.

Selasa, 23 Desember 2014

Review Film Pendekar Tongkat Emas

Keputusan Cempaka dan Janji Elang

Oleh: Rendy Jean Satria



"If you seek truth you will not seek victory by dishonorable means,
and if you find truth you will become invincible".
(Epictetus, Filsuf Yunani Kuno)



Tidak perlu ragu-ragu untuk menonton film terbaru dari Mira Lesmana dan Riri Riza melalui rumah produksi Miles Film. Kali ini film terbaru Miles Film, dipercayai oleh sutradara muda berbakat Ifa Isfansyah. Genre yang unik dan berani ini, menghadirkan film silat yang belum sama sekali disentuh sebelumnya oleh Mira Lesmana dan Ifa Isfansyah dalam film-film mereka sebelumnya. Jadi bisa dikatakan film silat ini proyek pertama mereka. Pendekar Tongkat Emas, mungkin adalah film yang ditunggu-tunggu oleh para penggila film di Indonesia. Genre film silat ini, pun dibintangi oleh aktor dan aktris serius. Eva Celia (Dara), Cristine Hakim (Cempaka), Slamat Rahardjo (Dewan Datuk Bumi Persilatan), Darius Sinatrya (Naga Putih), Nicholas Saputra (Elang), Reza Rahardian (Biru), Tara Basro (Gerhana) dan aktor cilik Aria Kusuma (Sebagai Angin). Dari serentetan nama-nama aktor diatas pun, kita menjadi penasaran, karena para aktor-aktor tersebut sebelumnya belum pernah sama sekali bermain di film-film silat sebelumnya. Lagi-lagi, kepekaan mereka sebagai aktor benar-benar diuji dalam film Pendekar Tongkat Emas ini dan kejeniusan sang sutradara pun juga dipertaruhkan di film ini.

Film Pendekar Tongkat Emas, tidak hanya bercerita tentang sebuah perguruan silat Tongkat Emas, yang dipimpin oleh Guru Cempaka, dalam melatih ke empat muridnya, Biru, Dara, Angin dan Gerhana untuk mewarisi tongkat emas dan ilmu melingkar bumi. Sebuah Ilmu yang sangat sakti yang tidak boleh jatuh kepada orang yang tidak tepat. Tapi film Pendekar Tongkat Emas, juga mengajarkan tentang sebuah keputusan, keberanian dan pengabdian. Film yang berlatar belakang waktu masa lampu, mengambil setting di daerah Sumba Timur, yang eksotis, dengan unsur alam yang masih jernih dan indah.

Prolog film ini dibuka dengan alur cerita yang menegangkan. Yaitu keputusan Guru Cempaka,mewarisi tongkat emas kepada Dara. Dara pun menerima keputusan itu. Namun Biru, sebagai murid senior yang paling tinggi ilmunya di antara ke empat murid Cempaka. Tak terima dengan keputusan Cempaka. Dara dan Angin pun dibawa ke suatu tempat oleh Cempaka untuk berlatih ilmu tongkat emas. Di tengah perjalanan mereka, Biru dan Gerhana, ingin merebut tongkat emas itu dari Dara. Ditengah perebutan tongkat emas itu, Guru Cempaka merenggang nyawa dibunuh oleh Biru dan Gerhana karena membela Dara dan Angin. Dara dan Angin pun berhasil diselamatkan oleh Elang, mereka berdua terluka. Ditengah film ini, kita akhirnya bisa mengetahui siapa sosok misterius Elang sebenarnya. Ia adalah pewaris terakhir dari ilmu tongkat emas dan ilmu melingkar bumi. Tapi Elang telah berjanji untuk tidak mencampuri urusan perguruan silat tongkat emas, kepada sang ayah, Naga Putih yang tidak lain adalah suami dari Cempaka. Keputusan Cempaka, janji Elang, kesetiaan Dara dan Angin, dan penghianatan Biru dan Gerhana, menciptakan alur yang dramatis dan menimbulkan efek-efek kejutan.

Kejeniusan Ifa Isfansyah dalam meramu film silat ini, patut diapresiasi. Gerakan-gerakan silat yang cepat, saling berkelindan dengan sinematografi yang cukup mumpuni dengan arahan teks skenario dari Jujur Prananto. Musik dari Erwin Gutawa juga mampu memberikan efek-efek puitik di dalam film ini.  Kerja kreatif yang dikerjakan oleh Miles Film ini, memberikan dampak progresif, semangat kreatif untuk perkembangan ke depan film Indonesia. Mira Lesmana, sang yang punya ide jenius ini, hanya ingin memberitahu kepada khalayak, kalau sineas Indonesia juga mampu memberikan tontonan film silat yang bermutu, elegan dan indah. Dan ini dimulai dari film silat Pendekar Tongkat Emas. Well, bagi mereka yang belum menonton film Pendekar Tongkat Emas, harus segera ditonton, karena akting silat dari Nicholas Saputra (Elang) dan Reza Rahardian (Biru) saat mereka beradu silat mati-matian di akhir film, sangat dinanti-nantikan.
 
Desember, 2014




Rabu, 29 Oktober 2014

Review Film ANNABELLE

ANNABELLE

Oleh Rendy Jean Satria



Boneka itu hidup. Boneka itu punya kekuatan gaib. Boneka itu dikuasai Iblis. Boneka itu meminta jiwa yang telah menemukannya. Boneka itu bernama Annabelle, yang menjadi boneka berhantu yang paling legendaris di Amerika. Rupa-rupanya sutradara Amerika tidak pernah bosan memunculkan kembali sosok boneka Annabelle, untuk menghantui para penonton setianya. Film Annabelle yang diproduksi oleh Warner Bros. Pictures (2014), mampu menghipnotis kembali para penontonnya. Film yang berdurasi kurang dari 2 jam tersebut, di setiap adegan-adegannya selalu memunculkan efek-efek kejutan, efek musik yang mencekam, dan beberapa kali selalu ada efek yang tak terduga.

Munculnya iblis yang menguasai boneka Annabelle juga muncul hanya di saat adegan tertentu, memunculkan satu kejutan tersendiri. Penonton tidak diberi jeda untuk duduk tenang dibangkunya. Film Annabele yang disutradarai John R. Leonetti, mampu memberikan rasa horror yang lumayan asin, rasa seram khas Amerika. Tirai yang tertiup. Bunyi mesin jahit. Lift yang tidak bisa naik. Bangku goyang. Bayangan-bayangan yang datang sekelabat lalu menghilang dan bunyi pintu yang digedor-gedor di sebuah apertemen. Film Annabelle yang dibintangi oleh Annabelle Wallis (Mia Form) dan Ward Horton (John Form), bermain cukup dramatik dan berkarakter, juga mampu menciptakan suspense-suspense yang baik saat harus berhadapan dengan boneka berhantu Annebelle.

Film ini bermula, ketika Mia dan John sedang menunggu kelahiran anak pertamanya, yang diberi nama Leah. Awalnya keluarga kecil itu hidup sewajarnya, sampai di suatu waktu John memberikan hadiah boneka yang paling diinginkan oleh Mia. Mia, yang mempunyai hobi mengoleksi boneka-boneka, sangat terkejut ketika John memberikan boneka Annabelle. Tak lama setelah boneka itu dipajang. Terjadilah malapetaka dan kesialan di dalam keluarga mereka. Kejadian-kejadian senantiasa mengusik mereka. Sampai di suatu malam, terjadilah adegan yang paling ditunggu-tunggu itu. Rumah Mia dan John disantroni oleh dua orang gila, dari keluarga Higgins yang mengikuti aliran sesat, pemuja iblis, mereka mencoba membunuh Mia dan John. Annabelle Higgins yang mencoba mengambil boneka Annabelle milik Mia itu ternyata bunuh diri di depan boneka Annabelle dan terjadilah setelah itu adegan-adegan terkutuk yang mengusik keluarga John Form. Walaupun saya sedikit kecewa pada adegan klimaksnya. Yang terasa hambar dan biasa-biasa saja.

Untungnya film ini didukung oleh Sinematografi yang baik oleh James Kniest, yang memberikan bahasa-bahasa gambar yang mencekam sekaligus menciptakan suasana yang benar-benar horror. Film Annebelle, yang dirilis di Amerika dan menjadi box office, memunculkan persepsi kita  tentang film-film horror di barat, yang dibuat dengan detail dan serius pasti akan menjadi film yang baik dan bagus. Indonesia dengan segala macam film-film hantunya harus belajar banyak tentang bagaimana membuat alur cerita, efek musik, dan karakteristik cerita hantu itu sendiri,

2014.







Jumat, 17 Oktober 2014

Review Film Dokumenter: Tjidurian 19, Rumah Budaya yang Dirampas  

  
Suatu Ketika di Tjidurian 19

Oleh Rendy Jean Satria


"Ketika sejarah dikubur
ingatlah, generasi masa depan
pasti akan membicarakannya lagi!"
Jean-Jacques Rousseau, pemikir klasik Perancis



Rumah itu dahulu kala, pernah ada puisi, cerpen, sketsa, lukisan dan artikel-artikel perjuangan yang diciptakan dengan darah dan air mata. Juga pernah  menyimpan kenangan tentang diskusi-diskusi kecil yang luar biasa, mengenai filsafat, ideologi, sastra dan seni. Di rumah itu dahulu kala, tempat semangat menjadi api. Kegelisahan, kecemasan, kelaparan, menjadi pejelajahan artistik yang luar biasa. Rumah itu, rumah Tjidurian (Cidurian) 19 berlokasi di  Jalan Tjidurian 19 Cikini, Jakarta pusat. Rumah milik  Oey Hay Djoen (Budayawan dan Pengurus Pusat Lekra) yang dijadikan sekertariat kantor Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), tempat kongkow-kongkownya seniman Lekra, tempat mereka menulis dan membaca sebuah keadaan zaman masa darurat. Lalu keadaan berubah setelah pemerintahan orde baru mengambil alih pemerintahan. Tiba-tiba seniman Lekra menjadi ditiadakan, dipenjarakan dan dimusuhi oleh orde baru. Termasuk rumah Tijdurian 19 berserta sejarahnya.

Seniman-seniman Lekra yang pernah berkarya di Tjidurian 19 seperti Martin Aleida, Putu Oka, Amrus Natalsya, Amarzan Ismail Hamid, S. Anantaguna, Hersri Setiawan, nama-nama yang terekam dalam ingatan di masa-masa indah itu. Masa dimana mereka, pada akhirnya harus rela menjadi anak tiri di tanah airnya. Mereka mencintai Indonesia dengan cara mereka sendiri, cara penjelajahan artistik dan estetik mereka sendiri. Mereka manusia kreatif, yang harus ikhlas menerima kenyataan hari ini. Rumah dan kantor mereka di Tjidurian 19 dikubur dalam geliat politik yang bengis. Sejarah tentang rumah itu dihilangkan oleh tangan-tangan orde baru.

Seketika mereka hilang. Tapi sejarah mereka kembali hidup. Rumah mereka, kantor mereka yang pernah bersejarah itu, kembali diberi nyawa dengan sebuah film dokumenter berjudul Tjidurian 19, Rumah Budaya yang Dirampas karya sutradara kreatif M Abduh Aziz dan Lasya F Susatyo. Sutradara film tersebut, M Abduh Aziz dan Lasya F Susatyo, kembali mengajak kita khususnya anak muda, generasi terkini untuk kembali menatap dan menginterupsi kembali agar kita mengenal sebuah sejarah yang telah dikubur hidup-hidup di tanah airnya sendiri.

Film dokumenter Tjidurian 19, Rumah Budaya yang Dirampas, begitu tenang, begitu puitik, begitu pelan, begitu rapi, saat seniman-seniman Lekra diwawancarai proses kreatif saat berkantor dan berkarya di Tjidurian 19, ada sesuatu di mata mereka, saat mereka berbagi pengalaman di suatu waktu yang lampau. Ada kekesalan, ada kegelisahan, ada keindahan juga. Pengalaman puitik mereka, dibeberkan secara terbuka. Tak ada yang ditutupi. Tapi di mata mereka terselip rasa kebanggaan juga kemarahan terhadap masa itu. 

Film dokumenter Tjidurian 19 ini, dibagi beberapa sub (Mengenal Lekra, Menuju Tjidurian 19, Tjidurian 19, Dinamika Tjidurian, Tjidurian dan Revokusi, Lembar Kelam dan Yang Tersisa) dengan plot yang berjalan mengalir. Di bagian pertama, kita diajak untuk mengenal Lekra, masa-masa awal mereka menjadi seniman lalu mengenal Lekra, bersajak, menulis cerita, dan mengikuti beberapa perlombaan menulis. Di bagian ke dua, awal mula mereka menuju rumah Tjidurian 19 untuk tinggal dan berkarya di sana. Usia para seniman Lekra tersebut, rata-rata masih sangat muda saat mereka menetap di Tjidurian 19 dan kesan-kesan mereka bertemu sastrawan besar seperti Pramoedya Ananta Toer, Bakri Siregar, Rivai Apin dan Utuy Tatang Sontani. Ada juga wawancara dengan Jane Luyke (istri Oey Hay Djoen) yang sudah sangat sepuh. Tapi masih menyimpan ingatan kuat tentang rumahnya yang dijadikan sekretariat untuk seniman-seniman Lekra dan awal mula saat mereka pindah ke Jalan Tjidurian 19, sekretariat untuk seniman-seniman Lekra dan awal mula saat mereka pindah ke Jalan Tjidurian 19, lalu saat sang suami, Oey Hay Djoen, meminta izin kepadanya agar rumahnya dijadikan kantor budaya Lekra. 

Di bagian terakhir film dokumenter ini, bagian yang sangat menarik bagi saya. Saat beberapa seniman lekra tersebut mengungkapkan tentang keterbentukan identitas mereka menjadi seniman Lekra dan bangga menjadi bagian penting di Lekra. Amarzan Ismail Hamid misalnya, mengungkapkan "Mimpi-mimpi muda saya dibangun di Tjidurian, sebagian besar menjadi kenyataan" Lalu, Martin Aleida juga mengungkapkan dengan mata yang berlinang "Saya masuk ke pangkuan orang tua yang baik, yang bernama LEKRA".  Pada tahun 1966  rumah budaya  tempat seniman Lekra itu berkarya diambil alih fungsi oleh kodam jaya dan mess angkatan darat. Bangunan rumah tersebut dijual tanpa ada surat lengkap kepada seorang pengusaha. Pada pertengahan tahun 1990an, rumah Tjidurian benar-benar dirobohkan dan diganti menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Tri Dharma Widya.

Data-data seperti foto, video arsip Nasional, dan lembaran-lembaran koran yang terbit di masa lalu, juga menambah dan mendukung kesan estetik tentang sejarah Tijdurian 19 di film tersebut. Semoga dengan adanya film dokumenter Tjidurian 19 ini, bisa membuka kembali bab- bab panas yang hilang itu. Menjadi sebuah sejarah yang dikenang dan diabadikan dalam ingatan kita semua. Bahwasannya, mereka para seniman Lekra pernah ada, pernah berjuang, pernah berkarya untuk tanah air dan revolusi dari Jalan Tijdurian 19.