Tampilkan postingan dengan label ESAI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ESAI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Maret 2019

Menikmati Puisi Rendy Jean Satria (suluk cinta dari profan ke transendental)



Oleh: Yuyun Wahyudin

(Guru MA Al-Falah dan Penulis Buku Biografi Best Seller KH. Ahmad Syahid)



lautan rindu
debar di akhir pekan
suluk pujangga

Haiku Yuyun Wahyudin buat RJS

Sejatinya. pagi ini saya hadir bersama dengan RJS (Rendy Jean Satria) di halaqah ini untuk saling menyapa,  membesarkan anak-anak yang lahir dari pikiran dan rasa yang kami miliki, anak-anak yang kami sebut dengan puisi. namun kehendak Tuhan berkata lain,  saat ini kami tidak bisa bersua. salam silaturahmi selalu

Rendy Jean Satria adalah santri khowariqul adat, santri yang berbeda dengan style santri di zamannya, ia nyeleneh,  mungkin banyak orang yang tidak permisif dengan prilakunya,  itu kesan pertama yang dapat saya baca (sebagai guru)  mengenai dia. Hal itu tercermin dari kesukaanya untuk membaca karya sastra bahkan filsafat yang tidak lazim bagi santri pada waktu itu,  namun justru hal inilah yang telah mendorongnya aktif menulis puisi sehingga namanya pantas untuk disebut sebagai penyair.

Diawali dengan karyanya yang pertama yaitu kumpulan puisi dari "kota lama" yang secara umum memotret tempat-tempat yang pernah ia singgahi,  sehingga karya yang satu ini lebih bernuansa sebagai puisi lawatan. alhamdulillah, tahap berikutnya lahir lagi anak puisinya yang baru yaitu Pada Debar Akhir Pekan,  sebagai pembaca saya menikmati puisi-puisinya, yang ada di buku ini.

Sekarang, pada kebanyakan atau setiap puisinya RJS mencoba memberikan magnit profetis transendental semacam nilai nilai ukhrowy dan ilahiyah, tidak profan semata seperti tercermin dalam beberapa puisi berikut ini

Cipicung Malam Hari,  Putaran Tasbih,  Keiklasan Tak Berwaktu, Sembahyang, Malam Isbat, dan Tujuh Mata Air , terasa sekali nilai spiritualnya,  bahkan sebagai penikmat puisi saya menangkap aroma yang sama ada pada puisi Pada Debar Akhir Pekan itu sendiri. meskipun setiap pembaca punya kebebasan untuk menafsir apa yang ada di balik puisi ini; 

".....Katakanlah,  tidak ada yang bisa melindungi
Kesepian sepasang kekasih,  selain bertemunya
Dua wajah yang saling mencintai
Di ambang debar dan tubuh yang dingin

Mungkin banyak orang menduga RJS sedang menceritakan pengalamannya, hatinya selalu berdebar diakhir pekan manakala janjian untuk bertemu kekasih pujaannya,  ada semacam dag dig dug di jantungnya. Intinya obat kesepian adalah pertemuan dengan sang kekasih,  dan selalu ada debar disampingnya.  Namun demikian pembaca lainnya bisa saja memberikan tafsiran yang berbeda

RJS telah sukses menjadi penyair,  tapi tidak dengan urusan cintanya, ia banyak menemukan gelombang bahkan karang,  hingga cintanya terkapar di tepi pantai kesepian.... maka satu satunya jalan adalah menyandarkan cintanya pada sumber Cinta yaitu tuhan, dengan cara mendekat-Nya setiap saat berbisik munajat pada-Nya untuk menghilangkan  segala ketakutan ia alihkan cintanya yang profan menjadi transendental,  seperti terasa pada bait bait puisi berikutnya

"Pertemuan menjadi alasan terbaik
Untuk menampung ketakutan
Sebelum langit menjadi hambar
Dan jarak kian lebar
Kuletakan harapanku di bibirmu
Menggali ruang,  membukakan jendela
Meresap dalam menit dan jam"

terakhir,  saya sampaikan selamat menikmati sajian kata kata,  semoga penuh kebermaknaan dan semoga sang penyair segera menemukan pelabuhan cintanya.

Nagreg, 03 Maret 2019

Rabu, 06 Februari 2019

MEMANJAT BUKIT LAMBANG PENYAIR ACEP ZAMZAM NOOR


Oleh: Rendy Jean Satria





“Kematian telah usai dimainkan sepasang burung
Adegan-adegan yang menegangkan itu berlalu sudah
Panggung kembali kosong. Hidup di dunia sekedar jeda”
(Ziarah Ke Bukit Borgo, hal. 75)



Penulis: Acep Zamzam Noor
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Oktober, 2018
Ilustrasi sampul dan isi: Suku Tangan
96 hlm
Puisi kerap kali mampu mengabadikan nama-nama tempat yang pernah begitu berarti bagi penyairnya. Nama-nama tempat itu kadang dihadirkan oleh penyair dengan sentuhan-sentuhan imaji dan frasa yang mengejutkan. Tentu untuk merumuskan kembali pengalaman di tempat tersebut perlu dibutuhkan persoalan rasa dan ketakjuban pada benda-benda sekitar yang mendorong perangkat puitika sang penyair baik secara intuitif maupun estetik bekerja menciptakan konstruksi puisi yang utuh. 

Hanya penyair yang memiliki kepekaanlah yang mampu menuliskan nama-nama tempat yang jauh bahkan muskil dikenali dari biografis pembaca menjadi sangat dekat dan seakan-akan kita diajak mengembara dalam marwah kata-kata sang penyair. Dari Walennae, Pettae, Bedugul, Pineleng, Londa, Gorontalo, Toraja, Paotere Singkawang, Kusumba, Senggarang, Bintan,  Penyengat, Riau, Celukan Bawang, Tapulaga, Gunung Lokon, Besakih, Mahawu, Selat Malaka, bergerak ke Kyoto, Ayabe, Nagoya, dan  marwah ini berujung  ketika penyair ke Bokori, sebuah nama pulau eksotis di Sulawesi Tenggara “Aku menyebrang ke batas territorial rindu”  (Menyebrang ke Bokori, hal 93.). Batas ini pada akhirnya membuat perjalanan sang penyair hanya “Dimana aku membayangkan semuanya sebagai orkestra sunyi”  (Menyebrang Ke Bokori, hal.93).


*

Style romantik pada nama-nama tempat dengan modus akan maut itulah yang saya tangkap coba dihadirkan penyair Acep Zamzam Noor dalam buku puisi terbarunya Membaca Lambang (Gramedia Pustaka Utama, 2018).  Beberapa nama agung dalam dunia kepenyairan kerap menggunakan siasat serupa seperti Dylan Thomas, Ted Hughes, Sergei Yessenin, Percy Bysshe Shelley, dan Sitor Situmorang,  Salah satu bait puisi Ziarah Ke Bukit Borgo (hal.75) yang sengaja saya kutip di awal menjadi kunci masuk dalam membaca keseluruhan 68 puisi Acep yang termaktub pada buku puisi Membaca Lambang. “ Undakan batu itu membaca takdirnya sendiri. Pada setiap langkah kaki pengiring jenazah” katanya. Kemudian, “Bunga kemboja yang gugur itu mencatatkan umurnya pada tanah basah”  dan suasana murung itu kembali dipertegas Acep  “Hanya dentang lonceng sepi”  Borgo sendiri adalah nama sebuah suku dari bagian Minahasa, suku ini berdiam di Sulawesi Utara.

Lalu terasalah frasa nada-nada akan maut yang serupa Acep gunakan dalam konteks dan nama tempat yang berbeda dalam beberapa puisi-puisinya. Di sinilah atmosfer melankolia sang penyair dibangun. Hanya dentang lonceng sepi. Dari bukit yang jauh, Borgo di Sulawesi Utara, ia juga pernah mampir di Pantai Kusamba yang terletak di Bali“ Jika ombak semakin menggali laut,  kesepian akan bergerak ke langit beku” tambahnya, (Kusumba hal. 30). Lantas kesepiannya juga bergema di Dodoku Ali, sebuah tempat di Ternate, Maluku Utara “Darahku yang beku kembali mencair, ketika ruap kopi meluruhkan kabut sepi”  pada puisi (Dodoku Ali hal. 47). Hanya dentang lonceng sepi. Yang terus bergema dan hilang “ Sunyi sesaat lampus” (Riau, hal.61) dan “Bergegas mencari sumber cahaya, untuk menaklukan sunyi di rongga dada” (Mencari Perigi, hal. 48).

*

Saya pun sebenarnya tak ingin sesumbar, tapi harus juga saya katakan kalau dominasi tema akan kematian, kepergian, kehilangan dan sedu sedan sangat terasa dari awal sampai akhir. Walaupun dalam beberapa buku kumpulan puisi Acep sebelum ini ada juga yang bercerita tentang maut. Tapi pada buku puisi Membaca Lambang, menjadi tumpah ruah. “Tapi kenangan lewat dari pikiran penat dan perasaan letih. Waktu seakan mengendap. Ingatan tak ada lagi dan doa yang kuseret tersangkut pada baris-baris nubuat. Lalu aku membayangkan surga yang penuh parodi” (Mendaki Bukit Doa, hal.73). Juga “Kematian bukan terminal akhir bagi penempuhan batin” (Natal Di Sintesa Peninsula, hal. 76). Atau “Kematian yang seksi menyelinap ke balik sunyi” (Pelabuhan Paotere, hal. 23). Dan “Diam-diam kau tarik sisa kain kafanku. Hingga telanjang seperti bayi” (Danau Lamboto, hal. 41).  Tambahnya lagi dengan puitis ketika berziarah di kawasan Toraja Utara, di desa Sendan Uai, Londa,  Kematian adalah pesta. Kepergian adalah tarian. Sedang kehilangan adalah tembang” (Ziarah Ke Londa, hal.19). Kadang filosofis tentang imaji maut hadir dengan cara mengejutkan “Terpejam adalah jalan panjang menuju pulang  (Di Makam Hubulo, hal.40). Sangat terasa dan diperkuat  ketika penyair berkunjung ke puncak Mahawu, sebuah gunung yang indah di Sulawesi Utara, yang harus melewati 160 anak tangga jika ingin ke puncak Mahawu “Aku hanya membilang bulan dan tahun pada jadwal kematianku” (Tangga Ke Mahawu, hal. 74)

*

Buku puisi Membaca Lambang dibagi oleh Acep dua bagian: Mencari Perigi (42 puisi) dan Membaca Lambang (26 puisi) dipublikasikan Acep saat usianya kini 58 tahun dan didedikasikan untuk sang Istri.  Seperti kekhasannya yang melulu terasa pada puisi-puisi Acep sebelum ini. Puisi-puisi perjalanan, pastoral dan alam masih menjadi tema sentral sang penyair untuk menemukan “Dunia baru yang tumbuh dalam kata-kata” (Di Makam Hubulo, hal.40)  “Pada Acep, alam dicerap bukan sekedar sebagai latar fisik, melainkan pula latar batin” tulis Joko Pinurbo, pada  Kalam beberapa tahun lalu.

Tentu kekuatan personifikasi citra puitika Acep pada buku puisi ini ada pada hal-ihwal pelukisan suasana dan kepiawaianya memainkan imaji dengan cara yang cerkas dan lembut. Dalam namun kita pahami. Acep tidak berjarak dengan situasi alam dan benda-benda di sekitarnya. Ia sadar, ia adalah bagian dari alam itu sendiri. Membaca Lambang, kita bukan hanya diajak untuk mengenali segala nama-nama tempat yang pernah Acep ‘ziarahi’ dengan segala metafor-metafor yang mengejutkan, seperti yang pernah dikatakan penyair Joko Pinurbo, pembaca diajak membaca latar batin penyair Acep. Yakni pengalaman spiritualistik.. Acep sangat jelas memvisualkan hal tersebut pada beberapa puisinya. Salah satunya terdapat pada bait ke 4 puisi Mendaki Bukit Doa:

“Dawat telah kering pena sudah patah
Dan doa yang kugelindingkan
Tersandung bongkahan-bongkahan batu
Yang tengah ditatah seorang rahib
Menyerupai anatomiku
 (Mendaki bukit Doa, hal. 73)

Mungkin baru pada buku puisi inilah Acep kerap kali menuliskan tentang sosok Kembaran dirinya pada beberapa puisinya. Dan kata-kata yang memiliki konotasi Kembaran gaib dari sang penyair juga sangat terasa pada puisi Pelabunan Ampenan. Sebuah pelabuhan tua, di Mataram, NTB.

“Kesanalah aku berjalan.
Berjalan sambil melepaskan Pakaian satu demi satu
Membuang lembar demi lembar keyakinanku ke laut
Ke sanalah aku berjalan sendiri menemui kembaranku
Yang merana. Menjumpai kesepianku yang sempurna”
(Pelabunan Ampenan , hal 37.)

*

Puisi sebagaimana juga yang pernah dikatakan pemikir dan penyair romantik, Charles Brown kepada karibnya, John Keats  “Mampu merekontruksi pengalaman filosifis menjadi citra visual yang tidak berjarak. Sepenuhnya terserap dalam puisi” sepenuhnya terserap dalam puisi.  Inilah kekuatan vitalitas kata-kata penyair Acep Zamzam Noor dalam buku puisinya kali ini, Membaca Lambang. Penggunaannya dengan skema sajak suasana dan citra yang terkompresi dengan baik untuk membangkitkan dunia yang menggairahkan secara romantik. Untuk menarik kekuatan gambar puitis dalam membuat pemandangan-pemandangan yang menakjubkan, hal itu bisa kita rasakan jika kita secara serius memanjat bukit lambang dalam keseluruhan puisi-puisi Acep Zamzam Noor.  Sebagai pembaca puisi Acep Zamzam Noor sejak masih remaja saya pun sangat mengapresiasi hadirinya buku puisi Membaca Lambang ini, penanda penting bagi perkembangan perpuisian di Republik ini.





Minggu, 26 Agustus 2018

Keinginan yang Ditahan dan Resah yang Remuk Karena Cinta Selebihnya Atasi yang Mengetahuinya

Oleh: Rendy Jean Satria


’Setiap puisi adalah potret dari penyairnya
Yang di ujung jalan, ia akan menyerahkan takdirnya
Pada langit dan angan-angan. Kadang ada rasa takut
Untuk menuliskan sebuah perasaan yang benar”
(Percy Bysshe Shelley, English Romantic Poet)

*

Penulis: Atasi Amin
Penerbit: Trubadur Bandung
Sampul: Rifky Syharani Fachri
Terbit: 2017


Penyair itu selalu duduk dipojok saat berlangsungnya perhelatan acara sastra yang dihadirinya. Ia tampak khusyuk menatap sesuatu. Ia terlihat tidak begitu suka keramaian. Sesekali berdiri, sesekali duduk kembali. Sesekali juga ia merokok dan di malam harinya, ia biasa meminum wine untuk menghangatkan tubuhnya. Kadang kalau persediaan wine nya habis, sang anak sering membawakan sebotol wine untuknya. Biasanya, di setiap sedang melamun dan dada yang sering diamuk keresahan, ia menulis puisi lewat gadgetnya. Saya menyukai kerendahan hatinya ketika ada kesempatan berbincang dengannya. Kebetulan pada beberapa waktu lalu saya satu kamar dengan sang penyair ketika ada acara Temu Sastrawan Provinsi MPU 2017  dan sempat satu acara juga pada Temu Sastrawan Jawa Barat Terkini tahun 2013.  

Saya senang melihat penyair yang tidak dibuat-buat dalam tingkah lakunya. Karena dari sikap itu saya jadi belajar tentang jalan kepenyairan yang tulus dan ikhlas “Di dalam kegamangan seorang penyair melihat hari esok, berharaplah puisi di suatu waktu yang jauh akan menyelamatkan hidupmu. Bersahabatlah dengan puisimu dengan ketulusan yang ajaib” Ujar Ivan Kotliarevsky (lahir 1769) salah seorang penyair Ukraina. 

Kepenyairannya terus berproses di dalam lubuk hati, tanpa ada orang yang mengusiknya. Penyair Atasi Amin adalah penyair yang saya maksudkan di atas. Saya mengenalnya untuk pertama kali lewat acara-acara sastra yang diadakan Majelis Sastra Bandung yang digawangi oleh penyair Matdon (lahir 1966).  Dan sekilas pernah membaca beberapa puisi Atasi pada kumpulan puisi bersama penyair lain, pada antologi Muktamar (2003). Awal mula setiap bertemu dengan Atasi kami hanya saling menggangukan kepala. Entah kenapa, tapi anggukan kepala saya selalu dibalas Atasi dengan anggukan kepala juga. Membuat kami dekat secara batin lewat anggukan kepala masing-masing.



*

Sebagai salah seorang penyair senior di Jawa Barat. Atasi adalah penanda yang harus dicatat dalam perjalanan kesusastraan modern Jawa Barat. Yang jalan kepenyairannya sudah ditempa sejak masih SD. Atasi lahir pada 21 Juni 1966. Sekitar pertengahan tahun 1970an, ketika ia masih berusia 10 tahun, Atasi kerap kali bertemu dengan beberapa sastrawan ternama di rumahnya di Cicadas yang sengaja bertandang untuk bertemu pelukis Jeihan (lahir 1938), sebut saja Remy Sylado (lahir 1945), Sapardi Djoko Damono (lahir 1940), Abdul Hadi WM (lahir 1946), dan Sutardji Calzoum Bahri (lahir 1941), dengan menyebut beberapa nama. Yang kini sumbangsih mereka terhadap kesusastraan Indonesia modern sangatlah berarti.

Beruntung bagi Atasi yang sering bertemu dengan mereka dan melihat para sastrawan tersebut berbincang-bincang tentang sastra atau seni di teras depan rumah Jeihan sampai larut malam, yang di kemudian hari membentuk jalan kepenyairannya. Kadang, Atasi kecil juga sering membacakan puisi-puisi terbaru Abdul Hadi WM, maupun Sutardji Calzoum Bahri di hadapan mereka. Melihat Atasi kecil suka puisi, Jeihan pun mulai melihat bakat sastra pada diri Atasi kecil.  Yang setelahnya Atasi  pun sering mengirimkan puisi-puisinya ke beberapa media cetak yang ada di Bandung dan Jakarta. Salah satunya majalah Hai dan Pikiran Rakyat. Di masa Atasi kecil suka puisi, gerakan puisi Mbeling sangatlah populer di Bandung.

Saya tidak ingin mengambil kesimpulan impulsif kalau Atasi terpengaruh pada gerakan tradisi puisi Mbeling yang Jeihan adalah bagian penting dari gerakan itu. Dan saya rasa tidak ada pengaruh yang begitu kuat dari style puisi Jeihan, sang Ayah. Puisi Atasi dikemudian hari memiliki karakter yang berbeda dari Jeihan. Karakter ini bisa kita lihat pada puisi Atasi yang memanfaatkan tradisi puisi Haiku dan sesekali puisi Liris.

Jadi ketika Prof. Jakob Sumardjo (lahir 1939) menulis pengantar pada buku puisi tunggal Atasi yang berjudul Ke Pintu (Prive, 2004)  kalau puisi awal Atasi ada keterpengaruhan pada puisi-puisi Jeihan dalam ironi maupun parodi. Saya melihat itu hanya romantisme sementara.  Tinggal satu atap selama belasan tahun bersama Jeihan. Tidak lantas, membuat Atasi harus seperti sang Ayah. Pengaruhnya hanya terletak pada kemiripan wajah antara anak dan ayah, juga pada cara menggangukan kepala. Selebihnya Atasi yang mengetahuinya.







*

Atasi mencari. Pencarian itu terus diolah, diendapkan dan dimatangkan pada beberapa puisi-puisinya. Dan menemukan napasnya pada puisi bertemakan cinta yang sedu sedan, peristiwa keseharian, flora fauna dan sosial-politik, menjadi berkelindan.  Kadang begitu sublim, kadang begitu melankolik, kadang begitu humor.  Khusus pada tema sosial-politik di dalam puisi Atasi. Penyair Ahda Imran pernah menulis begini “terasa ada pemaksaan pada kata untuk melayani hasrat-hasrat tematik yang dibebankan padanya. Kata dianggap hadir sebagai objek yang diperintah, kendaraan untuk sampai pada gagasan” tulis Ahda, pada epilog buku puisi Atasi Amin, Ke Pintu.


Peristiwa sosial-politik pada puisi Atasi adalah wajah yang acak, penuh kemungkaran, arus kelam politik, gemuruh slogan, ada keperihan yang begitu kompleks. Agaknya inilah yang membuat penyair Atasi begitu inferior pada kekuasaan dalam bahasa pemikir Jerman Walter Benyamin (lahir 1892) bisa disebut sebagai ‘Inferior yang kolektif’.  Sehingga Aku Lirik pada puisi Atasi begitu kental dengan ironi, yang ia tarik untuk merespon realitas yang begitu gamang

Kalau Atasi menulis puisi bertemakan sosial-politik, puisinya santai, terkekeh, dan terlihat main-main tapi serius pada koridor yang tidak jatuh pada puisi dangdut murahan yang riuh namun tak ada lirik yang berarti hanya menonjolkan tubuh luaran, payudara yang bergelayut dan pantat besar yang bopeng-bopeng. Logika bahasa, diksi dan bunyi pada sebagian puisi Atasi yang bertemakan sosial-politik, masih diperhitungkan oleh penyair. Seperti puisi di bawah ini.

Garam

Laut kita
Tiba—tiba kering
Dan debu garamnya
Menghambur ke barat

Kita bingung
Kita import garam
Dan kita export pelayan

Menulis puisi yang lucu, satire, sedikit ngebokep  dan bisa membuat orang tertawa, tidaklah mudah. Apalagi bagi mereka para penyair yang menulis puisi dengan konsepsi keberaksaraan yang kukuh, bukan keberlisanan. Nah, puisi-puisi Atasi, di bawah ini ada konsepsi keberlisanan. Jika dibacakan akan membuat orang tertawa dan mesem-mesem sendiri. Tentu sudut pandang penyair menjadi fondasi dalam mengungkapkan setiap kalimat. Agar puisinya tidak menjadi humor kering, melainkan menjadi satu renungan dalam melihat sesuatu. 

Nasehat

Mau hidup sehat?
Jangan isap rokok,
Susu saja


Celana

Celana bocormu
Menggugah aku
Berkembang biak

Cinta 3

Cintaku
Di balik pintu
Cintaku padamu neng geulis
Cintaku padamu nani,
O cinta,o nani

O, nani
Onani

Cinta 2

Ada cinta dengan apa?
Dengan hati
Dengan bibir
Dengan tangan
Dengan sabun

Saya kutip penjelasan Acep Zamzam Noor saat membahas sebagian puisi-puisi Atasi bernada humor, layaknya seperti puisi di atas:

“Rasa humor, barangkali ini juga harus selalu dipelihara oleh Atasi Amin jika ingin terus melaju di jalur yang dipilihnya ini. Bukan berarti harus menulis puisi-puisi lucu, atau menulis hal-hal aneh yang akan membuat orang tertawa. Melucu bukanlah satu-satunya cara dalam menulis puisi mbeling. Rasa humor yang saya maksud adalah sikap atau cara pandang seseorang dalam mengungkapkan sesuatu. Tidak kaku, tidak formal dan selalu di luar dugaan. Rasa humor tidak selalu berhubungan dengan keinginan melawak, tapi justru dengan kecerdasan dan kecanggihan memainkan kata-kata. Seseorang yang mempunyai rasa humor itu santai, tidak tegang, cuek, main-main, nakal tapi juga cerdas dan religius” tulis Acep Zamzam Noor pada antologi puisi bersama berjudul Laut Merah, ketika Acep membahas bagian puisi Atasi  Amin.

Walaupun secara pribadi, saya lebih suka ketika Atasi berbicara tentang cinta, Seperti puisi cintanya di bawah ini. Mencerminkan kalau Atasi, salah seorang penyair liris yang patut diperhitungkan.

Kekasih

Datanglah padaku, Kekasih
Biarkan buih belah rambut
Dan bukit tempat aku menepi

Membilang debur ombak
Nyanyian laut yang menang
Antara karang dan buritan

Berharap datang dari sumber
Dan hidup dalam
Sebab camar yang jaga

Di sepanjang pantai
Penyair memunguti senja
Bermil-mil perjalanan air mata

Akankah jadi cerita roman
Tertuang indah oleh bibir yang basah
Ataukah rasa salah
Datanglah kekasih
Temukan

Dan kekalutan Atasi, juga kita bisa lihat pada puisinya yang berjudul ‘Luka’ seperti ada resah yang remuk karena cinta.

Luka

Hujan sungguh deras
Disertai muntahan es
Taman-taman seperti terluka

Kami terbenam
Di kehangatan yang rakus
Tubuh-tubuh sunyi

Hasrat cinta
Tak ingin beku
Kami gemetar

Hujan sewaktu waktu berhenti
Menemu hati yang ngambang

Kemudian Atasi juga masih resah karena keinginan yang kuat untuk mencintai seseorang yang mungkin, sangat jauh di hadapannya. Seseorang yang pernah membuat Atasi melakukan perjalanan bermil-mil jauhnya sambil meneteskan air mata. Mencari seseorang yang kini entah berada di mana.

Dago

Jam 9 malam di simpang Dago,
Kau ada di mana,
Lampu-lampu berkelabatan dan dingin
Memasuki jalan terjal bukit pakar

Ta, mari kutemani,
Suara itu muncul
Mungkin suaramu, mungkin
Hujan yang buru-buru

‘Ta mari kutemani’ adalah frasa yang membuat nyinyir siapapun yang membaca puisi ini. Ruang bawah alam sadar Atasi pada puisi ‘Dago’, terbawa arus romantisme yang begitu teguh namun gaduh pada masa di mana, Simpang Dago menjadi salah satu ruang dalam kota Bandung, yang sangat personal bagi Atasi.

Relasi antara batas biografi Atasi di masa sekarang dan di masa lalu menjadi batasan yang lebur. Saya membayangkan Atasi berjalan menggunakan jaket tebal dan syal yang dilitkan di leher, di antara hujan dan derai air mata di dalam hati yang berkecamuk, ketika ‘Memasuki jalan terjal bukit pakar’ namun yang Atasi temukan adalah sedu sedan dalam hujan. Sosok pemilik suara itu, tidak pernah bisa menemui Atasi. Atasi pun pulang, membawa beban muatan rindu tak berbalas, tentu tanpa anggukan kepala.

Tidak hanya pada puisi Dago saja, Atasi bersuara sendu. Dalam puisi Still Alive, juga Kau adalah mimpi burukku/dengan tangan kau tutupi wajah/di selanya aku mengintip/debu-debu bergegas.  Juga terlihat jelas pada puisi Ni,  ni kau begitu malu malu/kutunggu lama hadirmu/ni, kini aku yang sedih/mereka siapa yang kau rindu/. 

Rupanya, pada puisi Atasi objek perempuan tidak ia jadikan perlambang atau simbol. Kita tidak dituntut mencari makna yang terkandung di dalamnya. Ia melihat perempuan secara realis, tidak abstraksi melainkan digambarkan dengan jelas.. Kejelasannya ini bisa kita baca pada puisinya di atas. Nama-nama perempuan seperti Yanti, Yuni, Ni, Ar, Rin menjadi sebuah potret eksistensi Atasi dalam merekam peristiwa-peristiwa empirisnya. Penyingkatan pada 3 nama perempuan Ni, Ar, Rin (kecuali Yanti dan Yuni) sebenarnya mengindikasikan kalau pertemuan mereka dengan Atasi begitu singkat namun membekas.

Khusus puisi buat Rin, saya melihat ada indikasi momen kesedihan yang sangat dalam. Saya kutip puisinya yang berjudul Epitaph 1 dan Epitaph 2:

Epitaph 1

                      :Rin

Sekilas bintang atas pualam
Mencetak nama dengan berkas
Perak

Kerudung satinmu
Sambut  syair epitaph
Melambai bulan saga

O,ranting ranting yang bergetaran

Malam kian ngambang
Di pelupuk mata
Yang pernah terbaca
Sebagai ambang

Epitaph 2

Dari utara membujur ke selatan
Awan mengejar bentangan langit
Aku memanjat

Kemboja meluruh
Bergabung menunggang angin
Yang membisiki ke telinganmu

Bahwa senja membeku di batu

Dan pada puisi inilah sesungguhnya saya masuk melihat potret diri Atasi Amin. Epitaph 1 adalah salah satu puisi terkuat di dalam buku puisi Potret Diri. Merekam pergolakan batin Atasi saat ditinggalkan seseorang. Puisi ini juga menggambarkan sisi melankolis dari Atasi, dalam cinta.  Suasana yang dihadirkan pada Epitaph 1, menyiratkan kalau Atasi tidak mampu menyimpan rasa harunya. Sehingga mampu melahirkan puisi yang begitu indah dan menjanjikan bagi kesusastraan Jawa Barat.

Di mana setiap kata,  Atasi seleksi begitu ketat. Menjaga unsur rima dan bunyi. Selain itu kita juga didekatkan pada renungan religius pada puisi di atas. Ada kotemplatif yang dikristalisasikan oleh Atasi. Suasana yang dihadirkan bukan hanya suasana luar fisik saja, melainkan suasana di dalam batin Atasi Amin. Antara rela dan tidak rela, seperti ranting-ranting yang bergetaran.

Hampir sebagian besar, ketika Atasi mencantumkan nama-nama perempuan di bawah judul puisinya, ada suara yang lain, raut wajah kesedihan, berakhir dengan ending duka lara berkepanjangan. Dengan kata lain hasrat seorang Atasi berada pada keinginan yang ia tahan selama mungkin. Sungguh inilah penantian yang paling menyakitkan. Penantian seorang penyair.

*

95 Puisi Atasi Amin yang kini terbit dalam sebuah antologi tunggal Potret Diri (Trubadur, 2017) di atas memiliki daya tarik lain yang cukup membius saya. Terutama pada puisi-puisi cintanya.   Terbitnya buku puisi Potret Diri  di usianya yang ke 51 tahun menandakan kalau Atasi sangat menjaga intensitas kepenyairannya. Tanggung jawabnya sebagai penyair masih kita bisa rasakan dengan hadirnya buku puisi Potret Diri. Beberapa di antara puisi yang ada di Potret Diri sebagian besar pernah muncul dibeberapa antologi bersama, koran dan buku puisi tunggal Atasi sebelumnya. Semua puisi pada buku puisi Potret Diri tidak bertahun.

Saya sebagai penyair muda Jawa Barat cukup senang ketika penyair-penyair senior saya di Jawa Barat, masih memiliki tanggung jawab kepenyairan untuk menerbitkan buku puisi terbarunya di usia senjanya. Seperti halnya Acep Zamzam Noor (lahir 1960), ketika menerbitkan buku puisi “Berguru Pada Rindu” (Basabasi, 2017) di usianya yang ke 57 tahun, Agus R Sarjono (lahir 1962) menerbitkan buku puisi “Surat-Surat Kesunyian” (Komodo Books, 2016), di usianya yang ke 54 tahun, Ahda Imran (lahir 1966), menerbitkan buku puisi “Rusa Berbulu Merah” (Pustaka Jaya, 2014) di usianya yang ke 52 tahun dan Soni Farid Maulana (lahir 1962) yang menerbitkan buku puisi “Endapan Kabut” (KKK, 2017) di usianya yang ke 55 tahun. Sangat penting dalam menjaga napas kesusatraan Jawa Barat agar tidak terserang asma dan sakit jantung.


Bandung, 24 November 2017
Esai saat bedah buku penyair Bandung Atasi Amin





Minggu, 31 Desember 2017

Epilog Untuk Naked Poems


7 Perasaan yang Berakhir Pada Ranjang Puisi

Oleh: Rendy Jean Satria


Ketika seorang kawan menghubungi saya untuk memberikan epilog pada antologi buku ‘Naked Poems’ yang ditulis 7 penyair muda yang aktif di dunia Twitter. Bandung, sedang dingin, karena baru saja turun hujan dan saya baru saja menikmati kumpulan puisi dari penyair terpenting Ukraina Bohdan Ihor Antonych di kediaman saya, yang terletak di dataran pegunungan. Karena persediaan kopi serius saya sudah habis, saya pun mengurungkan dulu membaca draft naskah Naked Poems. Karena persoalan keresahan yang sering datang mendadak dan baris akhir puisi yang sedang saya tulis, tak kunjung bisa diselesaikan.

Barulah beberapa minggu kemudian ketika narasi puisi enerjik Bohdan Ihor Antonych meresap seluruhnya dan kopi hitam saya mulai tersedia,. Saya kembali menekuni kumpulan Naked Poems ini dengan hati yang sedikit tenang, lenggang dan fokus. Kadang-kadang membaca puisi orang lain, dibutuhkan tenaga dan perasaan yang stabil, seperti sebuah asmara.

Kembali pada kumpulan Naked Poems yang ditulis oleh Dendy Andhika  Ivanasha, Schatzii, Amaasiapa, Rara Iswahyudi, Amyrhiby dan Dean Arif Pranata. Saat membaca judul kumpulan puisi ini, saya sudah bisa menduga arah narasi puisi ini akan bermuara kemana. Saat membaca judul kumpulan puisi ini juga, saya teringat dengan beberapa penyair dari Kanada, yang pernah menggelorakan semangat Puisi-Puisi Telanjang (Naked Poems Generation) di eranya, tahun 1960an.

Cover Antologi Naked Poems
Semangat generasi sastra Naked Poems dari para penyair Kanada cukup populer di masanya dan sampai terdengar gaungnya di negara-negara Eropa lainnya. Mengangkat tema hasrat seksual, ranjang penuh keringat, selangkangkan yang bobol, ceceran sperma di atas sprei, ciuman tanpa henti, mabuk akan tubuh, tentunya kata-kata tersebut sangat akrab pada gerakan Naked Poems di Kanada. Gerakan yang melawan sensor, dan menandingi persona agung puisi-puisi liris.

Lola Lemire Tostevin salah satu seorang penyair dan penulis feminis ini adalah bagian dari generasi penyair Naked Poems, yang 4 tahun lalu baru menerbitkan kumpulan puisi terbarunya ‘Singed Wings’ yang didalamnya berisi tema-tema internasional dengan sentuhan imaji ala Naked Poems. Puisi bertemakan seksual ternyata masih bernafas di Eropa.

Saya tidak tahu, apakah kumpulan puisi Naked Poems yang ditulis 7 penyair muda yang aktif di Twitter ini terinspirasi dari sana atau gerakan puisi-puisi bertemakan ketelanjangan dan selangkangan semacam ini di Twitter sedang trend dan hits, untuk menarik perhatian publik maya, entahlah. Yang jelas saya cukup senang akan hadirnya kumpulan Naked Poems yang ditulis oleh 7 penyair muda ini. Karena setidaknya puisi masih terus dibicarakan, dituliskan, dibacakan di antara gegap gempita dunia media sosial. Puisi di Indonesia pun harus berbagai tempat duduk dengan dunia yang serba canggih di era millenial. Walau kadang-kadang tempat duduknya agak sempit dan berdesakan.

*
Di antara 7 penyair yang ada pada kumpulan Naked Poems ini, ada 2 atau 3 penyair yang sudah pernah saya baca puisinya sebelumnya, selebihnya saya baru mengenalnya. Perasaan yang ada di benak saya, saat membaca puisi-puisi semacam ini, apakah mereka menyadari filosofis dari apa yang mereka tulis. Ruang hasrat yang dileburkan menjadi moment puitis, keindahan yang suram, dan permainan diksi-diksi seksual yang bertaburan atau puisi-puisi mereka hanya sekedar angin dikala malam, deru kendaraan di siang hari, dan selintas burung-burung di udara. Dengan kata lain hanya sebagai pelengkap pada perjalanan kesusastraan era millenial. Semoga saja, mereka benar-benar serius dalam gerakan Puisi Telanjang ini.

Karena bagaimanapun menulis puisi-puisi semacam ini harus penuh kehatian-hatian, sabar dalam memilih metafor, melebur pada setiap peristiwa, menjaga musikalitas, menentukan diksi, untuk menghidupkan kata-kata. Karena apabila tidak puisi – puisi semacam ini akan bias dan tergerus. Tak menjadi apa-apa. Kosong seperti coretan-coretan tangan di dalam kamar mandi sekolah. Tapi saya percaya 7 penyair muda Naked Poems ini akan memberikan kesegaran yang lain dalam perjalanan puisi Indonesia di era millennial.

Namun yang perlu saya sampaikan, tidak semua puisi-puisi dalam antologi ini menunjukan karakteristik dari gerakan Naked Poems. Tapi ada beberapa puisi-puisi yang menarik perhatian saya, karena kekuatan bangunan puitiknya, lebih sabar memilih diksi maupun metafora dan memperlihatkan citra gerakan Naked Poems yang tepat. Seperti puisi berikut ini:

BASAH

Tak ada yang lebih indah
dari ciuman berujung basah.
Tak ada yang lebih tabah
dari cinta sebatas kisah.

Dan kita,
halaman satu yang tak akan ada selanjutnya.

dapp, 2016.

Puisi Dendy di atas cukup menarik perhatian saya. Karena kekuatan rima akhirnya dan kekuatan rancang peristiwa di dalam puisi ‘Basah’ itu akan membuat pembaca akan berimajinasi. Tanpa disadari, Dendy menjaga kedalaman puisinya. Ketimbang puisi-pusi Dendy lainnya yang terlihat bicara luarannya saja, namun tak mampu menjaga kedalaman hasrat jiwanya yang liar, seperti puisinya yang berjudul ‘Libido’ yang langsung membuat saya sedikit mengerutkan kening dan langsung menyereput secangkir kopi Luwak saya sampai habis.

LIBIDO

Di sela-sela selangkang
kita patuh pada nafsu
libido yang terkekang
tak tertahan bak umpatan peluru

Sementara
lupakanlah waktu
biar setiap detak
yang melewati detik
itu punya kau dan aku.

dapp, 2016.

Lain halnya dengan Dendy. Puisi-puisi Ivanasha sudah pernah saya baca sebelum ini. Ivanasha, sebenarnya penyair muda perempuan yang cukup menjanjikan, kalau dia bisa menjaga konsistensinya dalam urusan menulis puisi.  Saya ingin mengutip cuplikan puisinya di bawah ini:

MEMBISIK NAMAMU

Di atas tubuhmu
Aku mau jadi puisi
Yang basah menggelinjang
Kau sayang-sayang
Penuh tegang dan
ketegangan.
Aku mau jadi lumat
Di tombakmu
Hingga tamat.
…………………..

Inilah yang saya maksudkan di atas, menulis puisi gaya Naked Poems perlu kehatian-hatian dalam menjaga unsur di dalam puisi, yakni metafora. ‘Metafora adalah bagian yang tak bisa dihilangkan dalam menulis sajak’ ujar Leight Hunt, penyair besar Inggris Raya, beratus-ratus tahun silam.  Dan Ivanasha, mampu menjaga ritme puisinya tersebut dengan memberikan sentuhan imaji yang segar, sehat dan bertenaga. ‘Aku mau jadi lumat, di tombakmu hingga tamat’ adalah sebaris kata-kata yang mempesona saya. Alat kelamin tidak dia tulis dengan seronok, melainkan diganti dengan kata Tombak yang sangat identik Tajam, Panjang dan Kuat.

Sungguh keliaran momen puitis  seorang perempuan. Saya hanya bisa mendoakan, semoga Ivanasha kelak mempunyai seorang kekasih yang memiliki benda ‘ajaib’ itu seperti halnya tombak. Karena Ivanasha ingin menjadi puisi yang pasrah dan basah di atas tubuh lelaki.

Kalau Ivanasha ingin menjadi puisi yang pasrah di atas tubuh. Puisi Schatzii lebih nyinyir. Seseorang yang dirundung duka dan patah hati yang panjang. Tak berujung. Sebuah percintaan yang liar. Puisinya lahir dengan menggunakan idiom-idiom yang sederhana, namun mengena, seperti pada cuplikan puisinya di bawah ini:

Aku ingin menangis meraung – raung
Di hadapanmu,
Kemudian teriak
Bahwa aku cemburu
Dengan Ia yang masih saja kau beri hangatmu

Saat menulis puisi, seorang penyair harus membebaskan rasa jujurnya, termasuk rasa jujur yang paling intim mengenai apa yang terjadi dengan kejiwaannya. Kedalamanan seorang penyair dalam merenung peristiwa yang ia alami bisa memberikan efek puisi yang cukup mempesona, menusuk dan masuk ke relung hati para pembacanya.

Saya melihat kemungkinan ini pada puisi-puisi yang ditulis Amaasiapa yang baru pertama kali saya baca puisi dari perempuan asal Sukabumi ini. Amasiapa sangat menjaga ruang dalam dan ruang luar pada narasi puisinya yang cukup panjang. Melankolia yang tak bisa disembunyikan dan tak terelakan. Puisinya menjadi semacam pesta percintaan liar yang sangat terobsesif pada satu objek. Seperti pada beberapa bait puisinya di bawah ini:

5.

" Peluklah tubuhku seperti tak ada tubuh lain yang kau inginkan
Dan ciumlah bibirku seperti kau dalam kehausan yang panjang."

7.

"Di ruang ini
kudapati kesepian sebagai cahaya
jalan menuju ibukota tubuhmu
di sana tumbuh puisi-puisi yang rela merawat kesepianku.

8.

"Kau tak akan mengira di antara tubuh dan puisi-puisi telanjang,
selalu ada kesedihan dan luka yang dalam."


‘Kesedihan dan luka yang dalam’, pada puisi Amasiapa di atas akan berakhir pada kecemasan yang berakhir sedu sedan di ranjang-ranjang puisi. Peleburan ini menjadi ruang bawah sadar seorang penyair Naked Poems. Membiarkan tubuhnya, menjadi puisi, menjadi Kata, lalu menjadi Kita yang berakhir pada kenikmatan tubuh-tubuh yang kerap kali ia temui. Ini yang terlihat jelas pada puisi-puisi liris Rara Iswahyudi seorang penyair perempuan asal Depok yang jalan kepenyairannya cukup saya perhatikan selama ini.  
Puisi-puisi Rara umumnya adalah pertemuan ia dengan banyak sosok lelaki, lawan bicara, teman percintaan. Kendati sesekali merujuk pada seseorang yang benar-benar ia cintai. Saya kutip satu puisi Rara, seutuhnya di bawah ini:

MELEPAS KECEMASAN

aku mengikat tubuhku pada kecemasan
menatap haru biru hasratku
di kedalaman resahku
berandai-andai akankah kulepaskan

cemasku mati dinyala liarmu
saat kau magut lembut bibirku
nyentuh syahdu buah dadaku
hingga kudedahkan untukmu

aku seketika buta akan cemas
saat kau tak henti menghujam pukasku
dengan zakarmu yang ngeras
sampai keringat saling menderas

Jakarta, 2017

Lain Rara, lain Amyrhiby. Puisi-puisi Amyrhiby cenderung benar-benar telanjang. Ia merasakan segala sensasi yang memabukan hasratnya untuk dijadikan tema puisinya. Kekuatan puisinya terletak pada penceritaannya yang begitu feminin. Amy, begitu juga Rara, saya sudah mengenal puisinya jauh sebelum ini. Amy, mempunyai pola ungkap naratif-linear yang menggebu-gebu, namun tetap mempunyai daya tarik tersendiri. Puisi-puisi Amy berada pada fase ambang kesedihan dan kegembiraan yang ia alami sendiri, seperti cuplikan puisinya di bawah ini:

Masih terngiang kisah semalam, saat kau merasa mabuk kepayang
Cinta kita tak berkesudahan. Menjelajah seisi ruang. Sofa kayu, benches put
hingga tebal si hambal permadani telah kita cicipi satu per satu.
Meski ranjang abu selalu menjadi tempat favoritmu.
Seakan tiada lelah kita bercumbu.

Kalau di dalam puisi-puisi Amyrhiby ada momen puitis yang begitu feminin. Lainya halnya pada puisi – puisi Dean Arif Pranata. Saya menemukan keliaran yang absurd. Puisi Dean sebenarnya menarik pada pemilihan judul Apartemen Waktu, semua judul puisinya diberi penanda jam, penanda dimana peristiwa percintaan absurd yang ia alami dan mungkin tidak ia alami sama sekali berlangsung. Namun pada isi puisi, Dean harus mencari kemungkinan-kemungkinan baru yang lebih dalam dan lebih sabar dalam menentukan setiap kata yang ia tuliskan. Kelak Dean akan menemukan apa yang saya maksudnya di atas. Saya kutip cuplikan puisinya yang cukup saya sukai:

20.06
……………………………..
Masuk kekamarku, buka bajumu
Mendekat, terserah, perlahan atau terburu-buru
Bantu tanggalkan baju
Jangan lupa untuk kecup juga bibirku yang kering namun manis karena nikotin
Tanggalkan juga dalamanmu
Biarkan jemariku masuk ke dalam tubuhmu

Saya cukup berbahagia dengan terbitnya kumpulan Naked Poems ini yang ditulis oleh 7 penyair muda yang dilahirkan oleh perkembangan media sosial.  Mereka semua mempunyai energi puitik yang luar biasa, untuk menghidupkan perpuisian Indonesia lewat jaringan media sosial. Bagaimanapun, “The Poetry  Of The Earth Is Never Dead” tulis John Keats, penyair besar Inggris, benar kiranya. Puisi di bumi tidak akan pernah mati. Puisi akan tetap bernapas sampai akhir zaman!


Bandung, Juli 2017