Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 19 Januari 2019
Jumat, 30 November 2018
Puisi Rendy Jean Satria (Media Indonesia, 11 November 2018)
Kepada Lenganku
Sudah berapa tahun kau membantuku
Menciptakan bahasa dari airmata ibuku
Menggeledah ribuan senja menjadi tubuh
Untuk dinikmati seperti lanskap di jauhan
Kuambil taring langit, lolongan srigala
hutan
Lumpur sawah, debar gunung, retakan-retakan
Di jembatan, lumut yang menempel, dan
lain-lain
Sudah berapa tahun kau membantuku
Untuk membuat kata-kata menjadi mawar
Di hati seorang perempuan. Hingga aku
Terbangun di kamar yang disusun olehmu
Dan jendela itu telah lama ditinggalkan
Burung-burung. Aku ingin tetap bersamamu
Memperpanjang hari-hari menjadi bahasa
2018.
Dua ekor kucing. Tirai jendela yang
tertutup
Tisu basah, pembakaran daun-daun, pohon
rambutan
Sebaris tajuk berita online, Trump
bertemu Kim-Jong Un
Langit menjadi pendiam, dan aku sibuk
menghitung
Kesunyian yang masuk ke dalam tubuhku.
Komputer
Berjalan dan di gudang persediaan kata-kata
remuk
Seseorang dari dinding pembatas muncul. Di
meja kerja
Terjadi peperangan antara masa lalu dan
masa depan
Langit menjadi pendiam, instagram yang
semu, matahari
Dengan rambut blonde muncul dari
pantai jauh. Ribuan
Visual menganggu pandanganku untuk
melihatmu lebih
Dekat. Aku tak bertanya, mengapa ribuan
kupu-kupu
Bersembunyi di perpustakaanku, dan seperti
sore
Aku ingin menarik tubuhku ke dalam
garis-garis bibirmu
Barisan truk-truk melintas, membawa muatan
cinta
Kenapa senja akhir-akhir ini menjadi lebih
kontemporer
Melebihi bunyi sepatu kematian dan getar sajak-sajak
Sergei Yessenin. Pintu ditutup dengan keras
seperti
Menghadang segerombolan cahaya masuk
Aku jatuh dan naik, sama saja. Langit tetap
pendiam
Tubuh-tubuhku di masa lalu berdemo,
menuntut
Kenaikan volume keresahan yang dilalui
burung-burung
Ingatanku pingsan dan menjadi bangkai.
Kata-kata
Mendarat di gerbang kota. Au Revoir,
menjauhlah
Dariku 250 km dan biarkan mataku terpejam
2018.
Aku Ingin Sajak Ini Melampaui Usiaku
1/
Jika aku harus berlayar tanpa peta di
tanganku
Tempat inilah yang kujadikan pelabuhan
untuk
Kuistirahatkan tubuhku, sampai semak-semak
Keresahan kubabat habis, tak tersisa. Jika
aku
Harus menenggak setiap kata, di sinilah
Kujadikan nisan bagi kata-kataku. Dan kau,
Adalah napas bagi hari-hari remajaku
Yang terbentang di bawah langit kasturi
Juga cekikan yang terlampau putus asa
Aku hanya ingin berlindung dari serangan
Kedua lengan fajar yang mencekikku
2/
Kutulis kalimat-kalimat ini yang kupinjam
Dari tubuhku, terlampau tegang menulis
Di atas matahari berangin dan gemetar
ranting
Aku ingin sajak ini melampaui usiaku
Dan letakanlah ia dalam matamu
Yang lembut dan bercahaya. Di sisi selatan
Nanti kau akan menemukan kata ini menyebar
Membawa kabar paling debar. Antara sajak
Novalis dan Burns, kudambakan malam
Berjilbab keharuman dan rumah bagi
Bunga-bunga yang kupetik di lembah alif
3/
Jika aku harus memilih kota-kota beratap bismillah
Maka di sinilah akan kulafadzkan segala
iktiar
Kau dan aku, tanpa beban masa lalu. Surah-
Surah melayang, kitab-kitab kuning menyala
Di dalam masjid tua itu, barjanzi di
dendangkan
Jari-jariku memutar tasbih dari kayu gaharu
Aku semakin dekat dengan kiblat yang kutuju
Jalan tanpa tiang-tiang beton, dan dinaungi
Daun-daun sebesar kuping gajah
Sampai ingatanku jadi tua dan busuk
Aku tetap menjaga kenangan padamu kekal
Sekekal nama-nama agung dalam kitab suci
2018.
Taman Tegalega, Shubuh Hari
Berjalanlah aku, ke situ
Tempat kata-kata berhamburan
Bagai kabut. Lilitan akar-akar tua,
Pohon-pohon berlumut, ranting-
Ranting yang meranggas, tumpukan
Batu-batu, orang-orang bergerak
Dari satu taman ke taman. Aku
Menujumu dengan beban resah
Sebesar matahari
Burung-burung memanjat langit
Empat patung macan di kelokan itu
Tampak berembun, kuhirup
Segala bau-bauan, termasuk
Bau kematian. Kelak di taman ini
Orang-orang akan mengingatku
Sebagai penyair dengan jaket
Tebal yang berjalan di antara
Daun-daun luruh dan pikiran
Yang meluap. Jangan mudah
Melupakanku, Karena aku tidak
Akan melupakanmu
Aku telat bangun, melihat
Wanita-wanita di jalan Ciateul
Pulang dengan tubuh yang berlendir
Dan bulan terusir oleh kicau kata-kata
Aku ingin di sini dulu, ucapku
Pada tiang-tiang penyangga
Menatap binar di mata anak-anak
Yang belum mengerti apa itu
Kesedihan
2018.
Rabu, 08 Agustus 2018
Puisi Tentang Tasikmalaya
(Puisi Rendy Jean Satria)
TIBA-TIBA KUINGAT TASIK
JEMBATAN PANJANG CISARUNI
TIBA-TIBA KUINGAT TASIK
Buat Acep Zamzam Noor
Tasik
yang jauh, kelokan-kelokan
Dan
senja yang sederhana. Bukit-bukit
Seperti
jejak yang samar bagi seorang penyair
Hujan
tak turun hari ini di kotamu, juga anak-anak
Yang
bermain di sawah. Hanya ada pemburu
Air
wudu. Hanya ada jejak waktu
Di
balik awan kuamini nubuat ini
Perjalanan yang
berkelok. Melawan
angin
Dari
timur. Menyaksikan
gadis-gadis Priangan
Wajahnya
yang coklat. Cara
berjalannya
Serupa
metafora yang tanggung
Tasik
yang jauh, seratus talkin yang kutakbirkan
Di sela
adzan yang menyelinap lewat lubang angin
Puisiku
seperti deru. Barangkali aku tetap menunggu
Sebagai
peniup kata-kata
di kotamu. Yang
kadang
Hadir
bersama debu. Kadang juga menyamar
Sebagai
bayang-bayang
2011.
*puisi saya
ini dimuat di H.U Pikiran Rakyat 2011
CIRAHONG
Pergantian
musim
Kupahami
seluruh ingatan
Yang
itu-itu juga
Suara-suara
aneh
Dalam
hati. Gerak awan
Yang
melingkari tubuhku
Dan
dinding hutan tanpa nama
Yang
dibelah oleh sungai
Yang
berwarna kekuning- kuningan
Pergantian
musim ini
Aku
berjalan menujumu
Di atas
rel kereta yang terapung
Di antara
dua bukit kembar
Seluruh
ingatanku berlepasan
Kubayangkan
sebuah lembah
Yang
jauh dan kebahagian
Sebagai
seorang pelancong
Yang
sudah lama
Berenang
dalam kata
Dan
merenung bak filsuf
2011.
JEMBATAN PANJANG CISARUNI
Bahkan
di situ, di jembatan panjang
Seorang telah sampai padamu
Membawa
kotak hitam yang berisi
Kecemasan
Retakan-retakan
jembatannya yang sudah
Lama berlumut kusinggahi
seperti
Menziarahi masa lalu dan masa
depan
Kutemukan
serpihan ruang
Di bawah sungai yang
mengalir
Di air terjunnya yang
mengendap-ngendap
Di bawah tanah
Kusimpan
segala percakapan demi percakapan
Ketegangan demi ketegangan
Di atas jembatan, di bawah langit merah
Mungkin
akan sampai seseorang di tanahmu
Membawa kotak hitam yang berisi
kecemasan
2011.
Hening
CINEAM
Masihkah
kau ingat ikan-ikan
Yang
menerjemahkan bahasa air
Di
kolammu atau burung-burung
Yang
singgah dan pergi
Seperti
kesedihan
Kusapa
kegelisahan yang mencekam!
Di
antara bukit-bukit dan kebun salak
Mengamini
gerak kabut, lanskap pedesaan
Dan
wajah gunung yang terapit
Di
langgar-langgarnya tak kutemukan
Kegaduhan.
Kesepianku menyusut
Bersama
hutan dan jalanan yang bebatuan
Bersama
bait-bait alfiyah yang menggema
Kutarik
tubuhku dari keramaian
Dan
masuk ke dalam peristiwa paling
2011.
Langganan:
Postingan (Atom)