Minggu, 05 Agustus 2012

Rumah Panggung Rendra

Hari semakin panjang
Begitu juga dengan usia

Kau yang kudatangi
Kau yang kuziarahi

Di malam yang tak tercatat

Di dinding coklat yang kusentuh
Kutemui puisi yang menembus
Jantungku

Mengalirlah segala yang kasih
Di rumahmu. Semacam penghayatan
Menunggu maut yang dingin

Dan entah kenapa, aku harus
Menunggu kematian

Di rumahmu

2012.

Rabu, 18 Juli 2012

Rabu, 29 Februari 2012

Kafe Huis, Braga

Setiap hari kau di situ, membawa tatapan kosong
Dan tubuh yang ringkih. Aku menulis di bulan-
Bulan yang penuh keraguan. Berklompot
Dengan bayangan-bayangan gaib yang sering
Datang tiba-tiba di tempat ini dan sebuah restoran
Di kiri jalan, sudah lama menghianatimu

Kenyamanan ini, mungkin tidak akan berlangsung
Lama. Aku akan melompat KE tengah hujan, berteriak
Dan memaki lukisan-lukisan gelap yang terpasang
Di trotoar


2011.

Kamis, 15 Desember 2011

Antologi Puisi Hysteria, Beternak Penyair

Antologi Puisi Hysteria Periode 2008-2010, "Beternak Penyair", sebuah buku antologi puisi bersama para penyair muda Indonesia. 

Diterbitkan oleh Komunitas Hysteria Semarang, Periode 2008-2011, terbit pada Desember 2011
 Beberapa penyair yang berkontribusi dalam buku tersebut, dapat dilihat di sini.

Kamis, 08 Desember 2011

Di Sepanjang Sukamanah

(Puisi, Juara di Universitas Siliwangi, Tasikmalaya)


                                                      Pada K.H Zaenal Mustofa

-nama-nama baru terus bermunculan
menggantikan para pendahulu
tapi namamu terpahatkan bersama waktu
bersama kerinduan-

sepanjang jalan menujumu
bukit-bukit bertumpuk di antara
kelokan ke kelokan, udara yang dingin
rumpun bambu dan hamparan sawah

serta wajahmu yang terpahat di pundak
awan. Aku pun, membacakan kalimat-kalimat
yang senantiasa di pahami para penziarah
agar setiap doa-doa menumbuhkan
kekudusan dalam dirimu

adalah waktu yang membuatmu
tertimbun dalam pengasingan yang panjang
dalam hari-hari bisu
dalam tahun-tahun genting

Oktober 1944
ada darah mengalir di situ,
di sana kulihat tubuhmu ditarik
dan diberondong rentetan lengking
peluru

seketika langit menjadi pupus
dan terkoyak, airmata tumpah menjadi
serdadu-serdadu, hatiku meleleh,
bersama nyeri

kunyalakan obor, kubangun surau baru
untukmu yang kunamakan puisi

diam-diam, aku membayangkan
wajahmu yang sedikit tirus
suaramu yang menjadi gema
serta dzikirmu yang berasal dari
langgam malam di Sukamanah

Sebagai pejalan angin yang tangguh
kau tidak mengharapkan apa-apa dari
pengembaraan ini

Sekali lagi, kisahmu
menyimpan oase ke ma’rifatan
dan menyimpan getar pada jalan
kepenyairanku kelak

Sebab kisahmu, bukanlah sebuah metafor
nukilan-nukilan, atau seperti kisah daun-daun
yang kering bertumpuk Lalu di lupakan

2011.