Tampilkan postingan dengan label Pikiran Rakyat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pikiran Rakyat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Oktober 2014

Aku Tak Terkapar


Kukumpulkan ranting-ranting namamu
Yang berserakan di lantai masa lalu. Lalu,
Aku nyalakan api sebesar matahari,
Dan mengundang para pesakitan untuk melihat
Pembakaran sebuah nama yang pernah mendiami
Dada seorang penyair yang linglung, yang lupa
Jalan pulang “Apa kau sungguh-sungguh ingin
Membakar nama itu?” ucap sosok api

“Undanglah prajuritku, kalau kau
Secara mendadak, berganti pikiran” ujar air
Di lubuk malam itu

Aku tak terkapar, karena sebuah nama
Yang memandangi seluruh tubuhku dengan cinta
Yang menggusungku pada perjalanan semak belukar
Dan hari-hari yang terasa sesak karena sebuah omelan
Yang itu-itu juga.

2014

 *puisi saya ini dimuat di Koran Pikiran Rakyat 
edisi 12 Oktober 2014


Minggu, 24 November 2013

Seperti Jarum Jam

Kaligrafi-kaligrafi Sumantri
Melekat pada tembok
Mengalirlah kata

Maut
bergulir seperti jarum jam
Pada tepi sunyi
Pada janji-janji kisah Attar

Bintang-bintang mati
Di udara aku melayang
Tanpa pernah mendarat

Bertahun-tahun
Aku menjadi pengembala
Mencari nada
Bergabung bersama sasmita

2013.

Minggu, 04 Agustus 2013

Aku Teringat Pujangga Trakl

Seperti musim dingin
Yang menerkammu
Di kamar itu

Lidah-lidah bintang
Menjulur di atas kepalamu

Tak ada dosa, yang abadi
Tak ada puisi, yang dilupakan

Mimpi-mimpi yang jatuh
Hanyalah sebuah perumpamaan

Bau alkohol dan asap hitam
Menjadi nisan, menjadi tanah mesiu
di Grodek

Di Grodek, semua cinta mengapung
Dalam rahmat dan sasmita

Melangkahlah kau dalam hutan kudus
Dalam musim gugur abu-abu

Trakl, di Grodek

Tak ada puisi, yang dilupakan

2013.


Minggu, 05 Agustus 2012

Rumah Panggung Rendra

Hari semakin panjang
Begitu juga dengan usia

Kau yang kudatangi
Kau yang kuziarahi

Di malam yang tak tercatat

Di dinding coklat yang kusentuh
Kutemui puisi yang menembus
Jantungku

Mengalirlah segala yang kasih
Di rumahmu. Semacam penghayatan
Menunggu maut yang dingin

Dan entah kenapa, aku harus
Menunggu kematian

Di rumahmu

2012.

Kamis, 21 April 2011

Tiba-tiba, Kuingat Tasik



Tasik yang jauh, kelokan-kelokan
Dan senja yang sederhana. Bukit-bukit
Seperti jejak yang samar bagi seorang penyair
Hujan tak turun hari ini di kotamu, juga anak-anak
Yang bermain di sawah. Hanya ada pemburu
Air wudhu. Hanya ada jejak waktu

Di balik awan kuamini nubuat ini
Perjalanan yang berkelok. Melawan angin
Dari timur. Menyaksikan gadis-gadis Priangan
Wajahnya yang coklat. Cara berjalannya
Serupa metafora yang tanggung

Tasik yang jauh, seratus talkin yang kutakbirkan
Di sela adzan yang menyelinap lewat lubang angin
Puisiku seperti deru. Barangkali aku tetap menunggu
Sebagai peniup kata-kata di kotamu. Yang kadang
Hadir bersama debu. Kadang juga menyamar
Sebagai bayang-bayang

2011.

Minggu, 03 April 2011

Mendengarkan Bunyi

Aku bernapas, menenenggak cemas
seluruh pori-poriku mengalir

Setiap aku ingin mendengarkan bunyi
meraba airmata, muncul kepahitan yang lainnya
meski sebenarnya, ketulusan sawah masih
bisa kuhayati

Langit yang membungkuk ketika senja muncul
mengatur langkahku agar setiap bunyi menjadi
bersambung di atas tanah merah

Aku menikmati langkah ini sembari
mendengarkan bunyi kepakan sayap burung
desah daun, dan juga desahanmu

Tiba-tiba aku tak inginkan sorga juga kitab suci!

2011