Selasa, 09 September 2014

Kepada Penyair Asia


Aku melangkah menujumu, menjaga kata-katamu
meresapinya dalam hening, membawanya ke tempat teduh
dan kuceritakan kepada gadis-gadis Sunda di tanahku
akan kusebar abu kata-katamu bersama angin dari tenggara
di bawah langit yang lugu, hamparan sawah yang mengajarkan
keikhlasan dan bukit-bukit yang terlihat bimbang. Jauh sebelum
aku lahir, aku hanya menerka.  Akankah kau bersajak lagi
tentang itu semua?

Dengarkan aku bersajak, adakalanya pertemuan kita
direstui hujan, ditandai dengan kelahiran sajak, September
yang gelisah, kutarik nafasku perlahan-lahan hingga terasa
sesak dadaku, sesekali aku mendehem mendengar rahasia timur
yang teduh, mistis dan santun

Di tanah ini, terhampar negeri puisi, lebih eksotis dari Andalusia
dan lebih gelisah dari kota-kota tua di Eropa. Aku melangkah
sekali lagi kepadamu dengan kegelisahan yang diwarisi
olehmu


2014



Minggu, 07 September 2014

Dhuha




Dhuha di mulut cahaya
Sebatang jarum
Menyelinap

Dalam diri
Dalam jiwa

Kota ini telah terbakar
Oleh satu lilin
Oleh satu syair
Oleh satu nama

Siapa yang mengenal-Nya
Berarti bisa mengenal
Ayat waktu

Mungkin ini stasiun
Tempat pertanyaan dan jawaban
Pulang, ke kotanya masing-masing

Sang pencipta
Siramilah aku dengan air itu

Agar aku bisa dicium
Oleh bibir angin 


2014

Kamis, 14 Agustus 2014

Review Film: Sebelum Pagi Terulang Kembali


Kejujuran Versus Idealisme

Oleh Rendy Jean Satria


"Selamat datang kebenaran
selamat pergi kepalsuan"
Allen Ginsberg,Penyair Amerika    




Add caption
Pagi adalah suci. Pagi adalah fondasi awal untuk membangun peradaban identitas pertama. Pagi adalah kejujuran saat kita melihat wajah kita di cermin sebelum beraktifitas. Ada semacam kegeregetan dan kegelisahan, saat kita menyaksikan Film Sebelum Pagi Terulang Kembali, yang diproduksi oleh Cangkir Kopi Production bekerjasama dengan KPK, untuk mengiterupsi gejala-gejala akut korupsi, kebohongan, intrik dan konspirasi di Indonesia. Film ini semacam jawaban, untuk kembali kita menyadari ada hal yang harus kita lawan di sekitar kita, di lingkungan kita, di kanan-kiri kita, di depan-belakang kita, bahwasannya korupsi bisa terjadi di lingkungan keluarga sendiri. Film Sebelum Pagi Terulang Kembali yang disutradarai oleh Lasja F Susatyo, merekam segala aktifitas korup di lingkungan keluarga, yang berimbas pada keretakan harmonisasi. 

Film ini bercerita tentang Yan (Alex Komang) pejabat pemerintah yang mempunyai prinsip kejujuran dalam dirinya, menolak disuap, menolak untuk melakukan korupsi, dan tetap menjalankan hidup yang sederhana, Yan mempunyai Istri bernama Ratna (Nungki Kusumastuti), seorang dosen filsafat yang mempunyai pandangan teoritis, tentang salah dan benar, yang mempelajari ilmu etika, ilmu epistomologi dan ilmu logika. Yan dan Ratna, memiliki tiga orang anak; Firman (Teuku Rifnu Wikana), Satria (Fauzi Baadila), dan Dian (Adinia Wirasti), yang ketiga anaknya tersebut mempunyai kompleksitas permasalahan yang berbeda-beda, tapi mempunyai satu keterkaitan yang kelak akan merubah kehangatan di dalam keluarga mereka. Kemunculan Hasan (Ibnu Jamil) yang menjadi kekasih Dian, adalah jawaban pertama tentang kehancuran keluarga ini dalam menanamkan nilai-nilai kejujuran dan keterbukaan. Seketika suasana menjadi suram dan gelap. Kontruksi nilai-nilai kejujuran tiba-tiba menjadi hancur dan menjadi sampah

Film ini, begitu sederhana sekaligus filosofis, kita tidak perlu mengerenyitikan mata kita saat menyaksikan film ini. Dari awal sampai akhir, film Sebelum Pagi Terulang Kembali, begitu berjalan secara realis dengan plot cerita yang begitu rapi dan hati-hati. M. Abduh Aziz, produser sekaligus konseptor ide cerita tersebut, paham betul dan sadar betul, bahwa film ini harus bisa menjadi mercusuar pencerahan bagi masyarakat Indonesia, untuk segera menghentikan gejala-gejala korupsi di lingkungan terdekat kita, terutama di dalam keluarga kita. Bahwasannya segala macam aktifitas konsumerisme dan materalisme hanya berakhir pada kejatuhan. Tema keluarga dalam film ini, begitu sangat dinamis dan bernas. Nilai-nilai kejujuran Yan sebagai kepala keluarga, bertabrakan dan pecah begitu saja, ketika Yan harus berhadapan dengan pandangan individualisme dan idealisme anak-anaknya. Ratna, sang istri, kemudian menjadi absurd di film ini, sebagai dosen filsafat, yang saban hari bergelut dengan rumusan ilmu-ilmu logika, dan ilmu-ilmu etika, tidak bisa berbuat banyak ketika pandangan filsafatnya hanya menjadi penonton ketika anaknya Firman (Teuku Rifnu Wikana) dan Satria (Fauzi Baadillah) tertangkap KPK. Well, Film Sebelum Pagi Terulang Kembali, harus menjadi fenomena awal dalam industri perfilman kita, agar bahwasannya media film, harus menjadi bagian inti, bagian garda depan, dalam menyuarakan gerakan anti korupsi!


2014.












Minggu, 24 November 2013

Seperti Jarum Jam

Kaligrafi-kaligrafi Sumantri
Melekat pada tembok
Mengalirlah kata

Maut
bergulir seperti jarum jam
Pada tepi sunyi
Pada janji-janji kisah Attar

Bintang-bintang mati
Di udara aku melayang
Tanpa pernah mendarat

Bertahun-tahun
Aku menjadi pengembala
Mencari nada
Bergabung bersama sasmita

2013.

Minggu, 04 Agustus 2013

Aku Teringat Pujangga Trakl

Seperti musim dingin
Yang menerkammu
Di kamar itu

Lidah-lidah bintang
Menjulur di atas kepalamu

Tak ada dosa, yang abadi
Tak ada puisi, yang dilupakan

Mimpi-mimpi yang jatuh
Hanyalah sebuah perumpamaan

Bau alkohol dan asap hitam
Menjadi nisan, menjadi tanah mesiu
di Grodek

Di Grodek, semua cinta mengapung
Dalam rahmat dan sasmita

Melangkahlah kau dalam hutan kudus
Dalam musim gugur abu-abu

Trakl, di Grodek

Tak ada puisi, yang dilupakan

2013.