Selasa, 08 Maret 2016

Launching buku puisi Kyai Yuyun Wahyudin dengan narasumber Rendy Jean Satria 
Minggu 28 Februari 2016 di STAI, Al-Falah Cicalengka - Bandung. Yang diadakan komunitas arus tali


dokumentasi foto : Komunitas Arus Tali
*saat baca puisi


Selasa, 16 Februari 2016

Berjalan di Pinggiran Tegalega




Pada saatnya nanti
Puisiku akan bersandar di sana
Tempat pertama kali cerlang
Matamu menikamku
Dan berteduh dari segala
Hujan rasa airmata

Kita tak perlu membuat sidang-
Sidang tentang masa lampau
Tentang di mana kau dan aku
Pernah terjun bebas pada kegelapan
Pada cinta yang pernah mengayunkan
Pedangnya

Pada lampu-lampu jalan menujumu
Pada gang-gang yang berlumut
Pada trotoar-trotoar yang terkantuk-kantuk

Di antara lagu-lagu Cat Stevens
Pecahan kaca halte
Lampu merah yang tertidur
Perempatan belok kanan
Aspal-aspal berlubang

Kupadatkan kesunyianku
Kuikatkan kata-kataku
Kulemparkan nama-nama
Ke tengah jalan, agar dilupakan
Dan membusuk

Pada saatnya nanti ke dua tanganku
Akan selalu membungkus tubuhmu
Dari musim dingin, dari malam ke malam
Yang selalu meniupkan sedu sedannya

Ini, puisi kuserahkan dipangkuanmu
Sebab hanya inilah yang menjadi
Cindramata bagi jalan panjang kita



2016.

Rabu, 20 Januari 2016

Puisi-puisi terbaru di Koran INDOPOS (Desember 2015)



Setelahnya Dago

                                                 :ESR


Dan terlepaslah bintang-bintang
Dari sarangnya

Beberapa mahluk bernama sunyi
Sempat melintas, tapi kuabaikan

Lalu turunlah bait-bait baru ini
Di jalan tempatmu tinggal

Ternyata
Aku ingin kembali lagi di sini
Menunggumu tanpa sinyal apapun
Hanya ingin mendengar cerita kopi
Barumu

Hanya ingin tenang
Dan luluh dibundar matamu

Lalu, alis matamu itu
Membawaku pada hutan-hutan
Kecemasan dan sebuah kafe
Tempat kesepian dirayakan

“Bahagia itu apa?” katamu
Sambil menyisakan sedikit
kopi ijen di bibirmu

“Bahagia itu titik, titik, titik”
Balasku. Kopi ijen itu pun
Berpindah ke bibirku

Mungkin tak ada salahnya
Kalau kau dan aku pulang
Selarut ini. Lampu-lampu
Di pinggir jalan terdiam gelisah

“Simpan senyumku ini
Selagi bulan masih berkedip”

“Lusa nanti, ada kopi baru
Yang akan kuhidangkan padamu”

 Dan malam semakin dingin
Wajahmu pun disepuh angin

Sampai aku pun tak tahu
Jam berapa saat ini


2015




Bersandar Pada Arsy-Mu


Semua telah kuabaikan, lalu aku cari satu-satu
Dimana detak kebahagiaan itu memancar
Rukukku kusambung menjadi jembatan
Aku baca kiblat yang lain. Lalu harus kemana
Rindu ini berakhir? Jika tak lagi bisa bersandar
Pada Arsy-Mu

Aku pun memecahkan kerak kegelapan
Yang melilit tubuhku. Membiarkan doa-doaku
Pecah di udara seperti jelaga. Kepasrahanku kurasakan
Dekat dan menitikan airmata. Mawar-mawar tumbuh
di ranting-ranting hatiku. Lalu harus kemana
Rindu ini kuarahkan? Jika tak lagi ada yang bisa
Diakrabi

Baiklah, izinkan seluruh thawaf cintaku malam ini
Hanya menuju diri-Mu semata dan merindukan
Yang bukan sia-sia . Karena tak ada satu pun
kekecewaan kalau semua arah tertuju pada-Mu


2015











Kamis, 07 Januari 2016


Puisi Rendy Jean Satria, berjudul GETAR PESONA, dibuat musik oleh musisi terkenal Bandung, Adew Habsta, dan dinyanyikan di sekitar jalan Asia-Afrika Bandung


GETAR PESONA

Tatap mataku yang merah karena puisi
Lemparkan kesendirianmu. Segala resah
Telah kujadikan siul dan menjadi getar
Kita terdiam dalam doa-doa yang bergolak

Aku ingin terlelap di tubuhmu
Melupakan segala gairah
Sebagai kekasih akan kubawa segala
Getaran-getaran itu ke rumahmu yang  jauh

2012.