Rabu, 06 Februari 2019

MEMANJAT BUKIT LAMBANG PENYAIR ACEP ZAMZAM NOOR


Oleh: Rendy Jean Satria





“Kematian telah usai dimainkan sepasang burung
Adegan-adegan yang menegangkan itu berlalu sudah
Panggung kembali kosong. Hidup di dunia sekedar jeda”
(Ziarah Ke Bukit Borgo, hal. 75)



Penulis: Acep Zamzam Noor
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Oktober, 2018
Ilustrasi sampul dan isi: Suku Tangan
96 hlm
Puisi kerap kali mampu mengabadikan nama-nama tempat yang pernah begitu berarti bagi penyairnya. Nama-nama tempat itu kadang dihadirkan oleh penyair dengan sentuhan-sentuhan imaji dan frasa yang mengejutkan. Tentu untuk merumuskan kembali pengalaman di tempat tersebut perlu dibutuhkan persoalan rasa dan ketakjuban pada benda-benda sekitar yang mendorong perangkat puitika sang penyair baik secara intuitif maupun estetik bekerja menciptakan konstruksi puisi yang utuh. 

Hanya penyair yang memiliki kepekaanlah yang mampu menuliskan nama-nama tempat yang jauh bahkan muskil dikenali dari biografis pembaca menjadi sangat dekat dan seakan-akan kita diajak mengembara dalam marwah kata-kata sang penyair. Dari Walennae, Pettae, Bedugul, Pineleng, Londa, Gorontalo, Toraja, Paotere Singkawang, Kusumba, Senggarang, Bintan,  Penyengat, Riau, Celukan Bawang, Tapulaga, Gunung Lokon, Besakih, Mahawu, Selat Malaka, bergerak ke Kyoto, Ayabe, Nagoya, dan  marwah ini berujung  ketika penyair ke Bokori, sebuah nama pulau eksotis di Sulawesi Tenggara “Aku menyebrang ke batas territorial rindu”  (Menyebrang ke Bokori, hal 93.). Batas ini pada akhirnya membuat perjalanan sang penyair hanya “Dimana aku membayangkan semuanya sebagai orkestra sunyi”  (Menyebrang Ke Bokori, hal.93).


*

Style romantik pada nama-nama tempat dengan modus akan maut itulah yang saya tangkap coba dihadirkan penyair Acep Zamzam Noor dalam buku puisi terbarunya Membaca Lambang (Gramedia Pustaka Utama, 2018).  Beberapa nama agung dalam dunia kepenyairan kerap menggunakan siasat serupa seperti Dylan Thomas, Ted Hughes, Sergei Yessenin, Percy Bysshe Shelley, dan Sitor Situmorang,  Salah satu bait puisi Ziarah Ke Bukit Borgo (hal.75) yang sengaja saya kutip di awal menjadi kunci masuk dalam membaca keseluruhan 68 puisi Acep yang termaktub pada buku puisi Membaca Lambang. “ Undakan batu itu membaca takdirnya sendiri. Pada setiap langkah kaki pengiring jenazah” katanya. Kemudian, “Bunga kemboja yang gugur itu mencatatkan umurnya pada tanah basah”  dan suasana murung itu kembali dipertegas Acep  “Hanya dentang lonceng sepi”  Borgo sendiri adalah nama sebuah suku dari bagian Minahasa, suku ini berdiam di Sulawesi Utara.

Lalu terasalah frasa nada-nada akan maut yang serupa Acep gunakan dalam konteks dan nama tempat yang berbeda dalam beberapa puisi-puisinya. Di sinilah atmosfer melankolia sang penyair dibangun. Hanya dentang lonceng sepi. Dari bukit yang jauh, Borgo di Sulawesi Utara, ia juga pernah mampir di Pantai Kusamba yang terletak di Bali“ Jika ombak semakin menggali laut,  kesepian akan bergerak ke langit beku” tambahnya, (Kusumba hal. 30). Lantas kesepiannya juga bergema di Dodoku Ali, sebuah tempat di Ternate, Maluku Utara “Darahku yang beku kembali mencair, ketika ruap kopi meluruhkan kabut sepi”  pada puisi (Dodoku Ali hal. 47). Hanya dentang lonceng sepi. Yang terus bergema dan hilang “ Sunyi sesaat lampus” (Riau, hal.61) dan “Bergegas mencari sumber cahaya, untuk menaklukan sunyi di rongga dada” (Mencari Perigi, hal. 48).

*

Saya pun sebenarnya tak ingin sesumbar, tapi harus juga saya katakan kalau dominasi tema akan kematian, kepergian, kehilangan dan sedu sedan sangat terasa dari awal sampai akhir. Walaupun dalam beberapa buku kumpulan puisi Acep sebelum ini ada juga yang bercerita tentang maut. Tapi pada buku puisi Membaca Lambang, menjadi tumpah ruah. “Tapi kenangan lewat dari pikiran penat dan perasaan letih. Waktu seakan mengendap. Ingatan tak ada lagi dan doa yang kuseret tersangkut pada baris-baris nubuat. Lalu aku membayangkan surga yang penuh parodi” (Mendaki Bukit Doa, hal.73). Juga “Kematian bukan terminal akhir bagi penempuhan batin” (Natal Di Sintesa Peninsula, hal. 76). Atau “Kematian yang seksi menyelinap ke balik sunyi” (Pelabuhan Paotere, hal. 23). Dan “Diam-diam kau tarik sisa kain kafanku. Hingga telanjang seperti bayi” (Danau Lamboto, hal. 41).  Tambahnya lagi dengan puitis ketika berziarah di kawasan Toraja Utara, di desa Sendan Uai, Londa,  Kematian adalah pesta. Kepergian adalah tarian. Sedang kehilangan adalah tembang” (Ziarah Ke Londa, hal.19). Kadang filosofis tentang imaji maut hadir dengan cara mengejutkan “Terpejam adalah jalan panjang menuju pulang  (Di Makam Hubulo, hal.40). Sangat terasa dan diperkuat  ketika penyair berkunjung ke puncak Mahawu, sebuah gunung yang indah di Sulawesi Utara, yang harus melewati 160 anak tangga jika ingin ke puncak Mahawu “Aku hanya membilang bulan dan tahun pada jadwal kematianku” (Tangga Ke Mahawu, hal. 74)

*

Buku puisi Membaca Lambang dibagi oleh Acep dua bagian: Mencari Perigi (42 puisi) dan Membaca Lambang (26 puisi) dipublikasikan Acep saat usianya kini 58 tahun dan didedikasikan untuk sang Istri.  Seperti kekhasannya yang melulu terasa pada puisi-puisi Acep sebelum ini. Puisi-puisi perjalanan, pastoral dan alam masih menjadi tema sentral sang penyair untuk menemukan “Dunia baru yang tumbuh dalam kata-kata” (Di Makam Hubulo, hal.40)  “Pada Acep, alam dicerap bukan sekedar sebagai latar fisik, melainkan pula latar batin” tulis Joko Pinurbo, pada  Kalam beberapa tahun lalu.

Tentu kekuatan personifikasi citra puitika Acep pada buku puisi ini ada pada hal-ihwal pelukisan suasana dan kepiawaianya memainkan imaji dengan cara yang cerkas dan lembut. Dalam namun kita pahami. Acep tidak berjarak dengan situasi alam dan benda-benda di sekitarnya. Ia sadar, ia adalah bagian dari alam itu sendiri. Membaca Lambang, kita bukan hanya diajak untuk mengenali segala nama-nama tempat yang pernah Acep ‘ziarahi’ dengan segala metafor-metafor yang mengejutkan, seperti yang pernah dikatakan penyair Joko Pinurbo, pembaca diajak membaca latar batin penyair Acep. Yakni pengalaman spiritualistik.. Acep sangat jelas memvisualkan hal tersebut pada beberapa puisinya. Salah satunya terdapat pada bait ke 4 puisi Mendaki Bukit Doa:

“Dawat telah kering pena sudah patah
Dan doa yang kugelindingkan
Tersandung bongkahan-bongkahan batu
Yang tengah ditatah seorang rahib
Menyerupai anatomiku
 (Mendaki bukit Doa, hal. 73)

Mungkin baru pada buku puisi inilah Acep kerap kali menuliskan tentang sosok Kembaran dirinya pada beberapa puisinya. Dan kata-kata yang memiliki konotasi Kembaran gaib dari sang penyair juga sangat terasa pada puisi Pelabunan Ampenan. Sebuah pelabuhan tua, di Mataram, NTB.

“Kesanalah aku berjalan.
Berjalan sambil melepaskan Pakaian satu demi satu
Membuang lembar demi lembar keyakinanku ke laut
Ke sanalah aku berjalan sendiri menemui kembaranku
Yang merana. Menjumpai kesepianku yang sempurna”
(Pelabunan Ampenan , hal 37.)

*

Puisi sebagaimana juga yang pernah dikatakan pemikir dan penyair romantik, Charles Brown kepada karibnya, John Keats  “Mampu merekontruksi pengalaman filosifis menjadi citra visual yang tidak berjarak. Sepenuhnya terserap dalam puisi” sepenuhnya terserap dalam puisi.  Inilah kekuatan vitalitas kata-kata penyair Acep Zamzam Noor dalam buku puisinya kali ini, Membaca Lambang. Penggunaannya dengan skema sajak suasana dan citra yang terkompresi dengan baik untuk membangkitkan dunia yang menggairahkan secara romantik. Untuk menarik kekuatan gambar puitis dalam membuat pemandangan-pemandangan yang menakjubkan, hal itu bisa kita rasakan jika kita secara serius memanjat bukit lambang dalam keseluruhan puisi-puisi Acep Zamzam Noor.  Sebagai pembaca puisi Acep Zamzam Noor sejak masih remaja saya pun sangat mengapresiasi hadirinya buku puisi Membaca Lambang ini, penanda penting bagi perkembangan perpuisian di Republik ini.





Jumat, 30 November 2018

Puisi Rendy Jean Satria (Media Indonesia, 11 November 2018)



Kepada Lenganku

Sudah berapa tahun kau membantuku
Menciptakan bahasa dari airmata ibuku
Menggeledah ribuan senja menjadi tubuh
Untuk dinikmati seperti lanskap di jauhan
Kuambil taring langit, lolongan srigala hutan
Lumpur sawah, debar gunung, retakan-retakan
Di jembatan, lumut yang menempel, dan lain-lain

Sudah berapa tahun kau membantuku
Untuk membuat kata-kata menjadi mawar
Di hati seorang perempuan. Hingga aku
Terbangun di kamar yang disusun olehmu
Dan jendela itu telah lama ditinggalkan
Burung-burung. Aku ingin tetap bersamamu
Memperpanjang hari-hari menjadi bahasa

2018.


 Langit Menjadi Pendiam



Dua ekor kucing. Tirai jendela yang tertutup
Tisu basah, pembakaran daun-daun, pohon rambutan
Sebaris tajuk berita online, Trump bertemu Kim-Jong Un
Langit menjadi pendiam, dan aku sibuk menghitung
Kesunyian yang masuk ke dalam tubuhku. Komputer
Berjalan dan di gudang persediaan kata-kata remuk
Seseorang dari dinding pembatas muncul. Di meja kerja
Terjadi peperangan antara masa lalu dan masa depan

Langit menjadi pendiam, instagram yang semu, matahari
Dengan rambut blonde muncul dari pantai jauh. Ribuan
Visual menganggu pandanganku untuk melihatmu lebih
Dekat. Aku tak bertanya, mengapa ribuan kupu-kupu
Bersembunyi di perpustakaanku, dan seperti sore
Aku ingin menarik tubuhku ke dalam garis-garis bibirmu
Barisan truk-truk melintas, membawa muatan cinta
Kenapa senja akhir-akhir ini menjadi lebih kontemporer
Melebihi bunyi sepatu kematian dan getar sajak-sajak
Sergei Yessenin. Pintu ditutup dengan keras seperti
Menghadang segerombolan cahaya masuk

Aku jatuh dan naik, sama saja. Langit tetap pendiam
Tubuh-tubuhku di masa lalu berdemo, menuntut
Kenaikan volume keresahan yang dilalui burung-burung
Ingatanku pingsan dan menjadi bangkai. Kata-kata
Mendarat di gerbang kota. Au Revoir, menjauhlah
Dariku 250 km dan biarkan mataku terpejam

2018.


 Aku Ingin Sajak Ini Melampaui Usiaku

1/
Jika aku harus berlayar tanpa peta di tanganku
Tempat inilah yang kujadikan pelabuhan untuk
Kuistirahatkan tubuhku, sampai semak-semak
Keresahan kubabat habis, tak tersisa. Jika aku
Harus menenggak setiap kata, di sinilah
Kujadikan nisan bagi kata-kataku. Dan kau,
Adalah napas bagi hari-hari remajaku
Yang terbentang di bawah langit kasturi
Juga cekikan yang terlampau putus asa
Aku hanya ingin berlindung dari serangan
Kedua lengan fajar yang mencekikku


2/
Kutulis kalimat-kalimat ini yang kupinjam
Dari tubuhku, terlampau tegang menulis
Di atas matahari berangin dan gemetar ranting
Aku ingin sajak ini melampaui usiaku
Dan letakanlah ia dalam matamu
Yang lembut dan bercahaya. Di sisi selatan
Nanti kau akan menemukan kata ini menyebar
Membawa kabar paling debar. Antara sajak
Novalis dan Burns, kudambakan malam
Berjilbab keharuman dan rumah bagi
Bunga-bunga yang kupetik di lembah alif

3/
Jika aku harus memilih kota-kota beratap bismillah
Maka di sinilah akan kulafadzkan segala iktiar
Kau dan aku, tanpa beban masa lalu. Surah-
Surah melayang, kitab-kitab kuning menyala
Di dalam masjid tua itu, barjanzi di dendangkan
Jari-jariku memutar tasbih dari kayu gaharu
Aku semakin dekat dengan kiblat yang kutuju
Jalan tanpa tiang-tiang beton, dan dinaungi
Daun-daun sebesar kuping gajah
Sampai ingatanku jadi tua dan busuk
Aku tetap menjaga kenangan padamu kekal
Sekekal nama-nama agung dalam kitab suci

2018.

Taman Tegalega, Shubuh Hari

                               
Berjalanlah aku, ke situ
Tempat kata-kata berhamburan
Bagai kabut. Lilitan akar-akar tua,
Pohon-pohon berlumut, ranting-
Ranting yang meranggas, tumpukan
Batu-batu, orang-orang bergerak
Dari satu taman ke taman. Aku
Menujumu dengan beban resah
Sebesar matahari

Burung-burung memanjat langit
Empat patung macan di kelokan itu
Tampak berembun, kuhirup
Segala bau-bauan,  termasuk
Bau kematian. Kelak di taman ini
Orang-orang akan mengingatku
Sebagai penyair dengan jaket
Tebal yang berjalan di antara
Daun-daun luruh dan pikiran
Yang meluap. Jangan mudah
Melupakanku, Karena aku tidak
Akan melupakanmu

Aku telat bangun, melihat
Wanita-wanita di jalan Ciateul
Pulang dengan tubuh yang berlendir
Dan bulan terusir oleh kicau kata-kata
Aku ingin di sini dulu, ucapku
Pada tiang-tiang penyangga
Menatap binar di mata anak-anak
Yang belum mengerti apa itu
Kesedihan

2018.


 
6 Puisi Rendy Jean Satria, di H.U Media Indonesia, 11 November 2018




Rabu, 03 Oktober 2018

Launching Buku Puisi Rendy Jean Satria 'Pada Debar Akhir Pekan'



Dalam rangka Seni Bandung #2 Ruang. Respon. Urban
Buku puisi 'Pada Debar Akhir Pekan' karya Rendy Jean Satria
akan dilaunching di Restoran Butterfield Kitchen, 
Jalan Dipatiukur No, 5 Bandung
Pada hari Jumat, tanggal 5 Oktober 2018

#SeniBandung2 #PadaDebarAkhirPekan 

Seni Bandung #2 Ruang. Respon Urban


Seni Bandung #2
Respons. Ruang. Urban.
29 September - 14 Oktober 2018

Lebih dari 2363 seniman
dari 45 kelompok kesenian
yang tampil di 11 titik
dan berasal dari 5 bidang seni.

Seni Bandung adalah festival kota tahunan yang mentransformasikan ruang-ruang kota menjadi panggung kesenian. Di Seni Bandung #2, selama enam belas hari, sebelas titik di Kota Bandung akan secara kolaboratif menyelenggarakan kegiatan yang melibatkan lima bidang seni yaitu sastra, teater, seni rupa, tari, dan musik. Seni Bandung #2 mengambil tema Respons. Ruang. Urban. yang menantang para seniman untuk membuat karya yang tidak hanya estetis, tapi juga mampu secara persuasif mengajak warga kota untuk sama-sama menyadari serta memecahkan kompleksitas persoalan urban. 

Pembukaan Seni Bandung #2 akan dilakukan di Jalan Asia Afrika dan Cikapundung Riverspot pada tanggal 29 September 2018 mulai pukul 18 (Car Free Night) dan akan dibuka oleh Walikota Bandung, Oded M. Danial. 

Setelah itu, Seni Bandung #2 akan dilaksanakan di sejumlah titik "panggung satelit" yang detailnya adalah sebagai berikut: 

Terminal Leuwipanjang - 3 Oktober 
Taman Budaya Jawa Barat - 4 Oktober 
Butterfield Kitchen - 5 Oktober 
Kebun Seni Tamansari - 5 Oktober
Lapangan Cijerah - 6 Oktober
IFI - Bandung - 6 - 14 Oktober
Spasial - 8 Oktober
Celah Celah Langit - 13 Oktober
Ruang Putih - 14 Oktober
Cikapundung Riverspot - 14 Oktober

Untuk susunan dan pengisi acara bisa dilihat di instagram @senibandung.

Seluruh acara gratis dan terbuka untuk umum.

 Ars Longa Vita Brevis.

 Marhaban, minggu suci kesenian