Senin, 06 November 2017

Kata Pengantar Untuk Para Penyair Muda Depok


Bermula Dari Depok


Oleh Rendy Jean Satria

Antologi Puisi Bersama, Para Penyair Muda Depok, 2015
Saat saya sedang menulis catatan pengantar ini, yang saya bayangkan adalah puisi-puisi mereka yang masuk dalam antologi buku Malam Puisi Depok tersebut, dikemudian hari terus berkembang dan berani dalam mengekplorasi bahasa. Berani dalam memainkan metafor, dan bisa menjaga ketukan-ketukan nada di dalam puisi-puisi mereka selanjutnya. Menambah bahan referensi buku puisi yang berkualitas dan tidak serta merta menulis puisi yang terkesan asal, dan begitu adanya. Puisi harus diresapi kehadirannya, keheningannya, kegelisahannya, dan kejujurannya. Kejujuran dalam menulis puisi, adalah hak mutlak bagi seorang penyair muda, khususnya para penyair yang masuk dalam antologi Malam Puisi Depok ini. Tulislah sesuatu dengan jujur, tak muluk-muluk, tak cerewet dan ambigu.

Bermainlah dengan suasana kesunyian, kesepian dan sesekali bergabunglah dengan keriuhan kota. Resapi kedatangan metafora-metafora yang mendadak datang seperti Wahyu dari langit. Tapi sayangnya, sekitar 150 penyair dan puisi karya mereka yang masuk ke meja saya untuk diseleksi banyak ambigunya ketimbang kejujurannya saat menulis puisi dan alhasil tidak kesemua puisi itu harus masuk ke dalam antologi Malam Puisi Depok. Hanya sekitar 48 puisi yang saya pilih dan Selvi untuk dimasukkan dalam antologi bersama Malam Puisi Depok. 48 Puisi yang saya pilih saya rasa cukup berpotensi untuk perkembangan jalan kepenyairan mereka selanjutnya.

Saya selalu terkesan dengan para penyair yang menulis puisinya dengan cinta, kejujuran dan keiklasan, saya selalu mangap kalau melihat puisi yang semacam itu, semisalnya saya beri contoh keindahan puisi yang jujur dan jernih dari penyair garda depan era Romantik, Lord Byron  "Dia berjalan dengan indahnya, laksana malam. Di tengah udara jernih dan langit bertabur bintang. Dan semua yang terbaik dari terang dan kelam. Berpadu dalam sosok dan matanya;Sehingga berpendar lembut di cahaya temaram. Dan awan menghalangi hari kerontang"(Dalam puisi Dia Berjalan Dengan Indahnya).

Penyair harus bisa mengajak intuisinya, hatinya dan pikirannya, menciptakan satu kesatuan puisi yang terjalin, antara tema maupun tubuh puisi itu sendiri. Alhasil, kita akan melihat puisi yang berhasil, adalah puisi yang selalu akan diingat oleh para pembacanya sampai kapanpun, dan sebaliknya puisi yang dengan gizi yang buruk, tidak akan bertahan lama, ia akan ditelan waktu. Dan selanjutnya tak pernah ada.


48 puisi hasil seleksi yang saya pilih dengan Selvi, untuk antologi buku Malam Puisi Depok, masing-masing mempunyai karakternya masing-masing, walaupun di antaranya masih kesulitan dalam menjaga rima, diksi, metrum, ketukan atau bunyi. Dan yang terpenting dari itu, mereka yang telah terpilih mempunyai semangat yang luar biasa untuk menghasilkan puisi, ini yang membuat saya terkesan, karena kebanyakan dari mereka hidup di kota serius seperti Jakarta, Depok, Bekasi, dan Bogor sebagian dari penyair tersebut ada yang bekerja di kantor swasta, menjadi ibu rumah tangga, karyawan, bisnismen, buruh, dan guru. Di tengah kesibukan mereka, mereka masih menulis puisi. Ini sangat dasyat dan luar biasa. Puisi hidup di tengah-tengah aktifitas mereka yang padat.

***

Saya mengamati dengan serius, puisi-puisi yang masuk dan yang terpilih, dengan maksimal. Dan beberapa di antara penyair yang terpilih sebagiannya akan saya bahas di catatan pengantar ini.  Puisi pertama berjudul "Kotak" karya Novia Nathania,adalah salah satu puisi yang menarik hati saya, kalimat-kalimatnya jernih dan mengalir. Kata-kata dibiarkan menemukan ujungnya dan Novia, berhasil menjaga rima puisi ini tetap stabil dan bermakna. Sebagai contoh berikut cuplikan puisinya yang berjudul Kotak "Sebuah kotak biru tertinggal di depan pintu. Gadis kecil bertopi jingga lewat mengadu. Siapa? Siapa yang membawanya? Apa malaikat bersayap hitam? Apa setan bertongkat emas?..............."

Lain halnya dengan Novia, Diyan Lestari dengan judul puisinya "Malam di Kopi Bar"mencoba menghadirkan suasana sang Aku lirik di tengah-tengah kesunyiannya di sebuah kafe, menciptakan letupan-letupan dramatis di dalam bait-bait puisinya, "Kusentuh pipimu yang merah ranum dengan belati. Puisimu tersedu-sedu di kafe ini lalu kugantungkan cahaya. Malam merambat jadi jalan-jalan panjang, tak berpeta, tak bertujuan, tak tentu arah" Sang Aku lirik, dibiarkan melebur dengan kesepiannya yang merajalela, dan tentu saja sang Aku lirik menjelaskan dengan jernih apa yang terjadi pada akhirnya  " Waktuku mungkin sudah habis, menggenggam jarimu kelak"  Diyan Lestari pada puisinya tersebut, bermain visual suasana, yang acap kali dilakukan oleh para penyair-penyair liris terdahulu. Puisi ini cukup mengesankan. Saya sarankan untuk Diyan Lestari, membaca karya-karya puisi dari penyair perempuan Elizabeth Bishop (Amerika) dan puisi-puisi indah dari Anna Akhmatova (Rusia).

Kekuatan judul pada sebuah puisi juga bisa menarik hati pembaca, judul yang sedikit berbau prosais dengan judul panjang-panjang juga terlihat pada puisi Andri K Wahab, berjudul " Malam ini Betapa Ombak Melaut Di dadaku" dan "Tiap Sore Hujan Turun di Kotamu Memakai Baju Baru" puisi Andri K Wahab, sebenarnya biasa-biasa saja. Karena Andri bisa menjaga ketenangan dalam menjaga keseimbangan antar bait, puisi ini berhasil diloloskan.

Selanjutnya, ada puisi berjudul "Tujuh Rima" dari  Rara Iswayudi, penyair perempuan asal Depok yang masih sangat muda ini berhasil membuat saya terkesan pada puisinya. Puisi Tujuh Rima, menggunakan jenis tipograf puisi memanjang ke bawah, tipograf seperti yang dituliskan oleh Rara Iswayudi, pernah dilakukan oleh penyair  W. S Rendra dalam puisi-puisinya yang berjudul, Rumah Andreas, Doa Orang Lapar, dan Amsal Seorang Santu, dengan menyebut beberapa puisi.  Tipograf memanjang kebawah, tanpa ada jeda ditengah-tengahnya harus dilakukan dengan jeli dalam memainkan kata-kata, memainkan isi naratif pada puisinya agar cerita menjadi mengalir. Rara saya kira cukup berhasil memoleskan kejeliannya untuk menghasilkan sebuah puisi yang syahdu ini.  Puisi berjudul "Cie" dari Alra Ramadhan  dan puisi berjudul "Nasi Goreng" dari Sarah CH dan juga puisi berjudul "Pasar Minggu Itu Kamu" karya Andy juga melakukan hal yang sama, dan menciptakan kesan dalam  puisi mereka dengan cara naratif.

Di samping banyaknya penyair dalam buku ini yang menuliskan tema-tema rindu, cinta yang bertepuk sebelah tangan, kehilangan identitas, kesunyian dan juga pencarian diri. Ada beberapa puisi yang menurut saya agak berbeda dan berani dalam mengeksplor bahasanya menjadi telanjang, cuek dan tajam ini terdapat dalam puisi berjudul "Kembung Buntung Bingung" karya Rahmi Budiyanti, penyair perempuan yang enerjik  ini menuliskan kalimat-kalimatnya dengan sangat obsesif erotisme  yang meluap-luap seperti dalam cuplikan puisinya ini "Tersisa raga yang haus ketelanjangan, menikmati satu yang menjepit selangkangan. Main tindih-tindihan. Main kuda-kudaan. Main anjing-anjingan"  Puisi ini cukup menarik, karena satu ditulis oleh perempuan dan kedua ia menulis dengan kejujuran, tanpa muluk-muluk, tanpa simbol-simbol yang gelap. Saya cukup menaruh harapan untuk Rahmi Budiyanti di masa depan, untuk lanjut dalam menulis puisi dan saya sarankan untuknya agar membaca karya penyair Perempuan dunia seperti  karya-karya Sylvia Plath atau penyair perempuan legendaris asal Yunani, yaitu Sappho.

***

Dalam kasus perpuisian dunia, yang paling membingungkan para pembaca atau peneliti adalah ketidakjelasan seorang penyair dalam memainkan simbol-simbol yang ambigu dan tak tentu makna di dalam karya-karya puisi, yang acap kali sering meruntuhkan estetika yang sudah dibangun sedemikian rupa. Puisi berjudul "Tengku Birahi" karya Salman Alkatiri, saya kira hampir terjatuh dalam kerangka yang saya katakan di atas. Salman seperti ingin mengungkapkan sesuatu tapi tak sampai-sampai, karena ia terlalu banyak bermain simbol-simbol yang Salman sendiri kebingungan  coba kita simak-simak cuplikan puisinya tersebut "Aku mendengar akar pohon kehidupan berteriak-teriak dari balik punggung sang durjana. berontak ingin meludahi saripati tanah yang begitu menggoda. Aku mengecap naluri ketaksaan dari sayap-sayap malaikat malang" kata akar, punggung, durjana, sayap-sayap, malaikat menjadi terkesan dipaksakan dan di kalimat selanjutnya Salman, bukannya bertobat malah kedodoran.

Saya memberikan apresiasi untuk puisi "Tengku Birahi" karena Salman seperti berusaha betul, memainkan simbol-simbol dalam puisinya. Sama halnya dengan Salman, puisi dari Muhammad Ridwan berjudul "Perjalanan Sunyi", dan puisi dari "Sejawat Yang Kandas” karya Rena Kharisman juga melakukan hal serupa. Cerewet dalam bermain simbol-simbol. Coba dech, untuk Salman, Ridwan dan Rena saya sarankan untuk membaca puisi-puisi simbolik dari penyair asal Perancis, yaitu Charles Baudelaire. Karena dalam sejarah perpuisian simbolik yang dipimpin oleh Arthur Rimbaud pada paruh pertama abad 20, seperti yang diungkapkan Grimferrer , puisi simbolik muncul sebagai pencarian murni yang estetik.

Selanjutnya saya mencoba berenang ke lautan imajinasi puisi-puisi dari Santy Ruby "Kita", Alra Ramadhan "Ditelepon Tak diangkat-angkat", Imam Permana "Sebatang Lagi" dan Ivanasha Adani Prasetianti "Perlahan" puisi mereka tersebut sangat syahdu dan sedikit mengejutkan, karena kalimat-kalimatnya yang orisinil dan saat membaca puisi tersebut saya tidak seperti diteror seperti puisi Salman, Ridwan, dan Rena  di atas.

Saya menikmati puisi mereka, misalnya pada puisi Shanty Ruby ada satu cuplikan puisi yang berbunyi seperti ini " Aku, si ceroboh yang suka lupa meletakan kata, berceceran di sekitar kakimu, berguguran menempel di rambutmu dan itu jadi alasanku melingkarimu dengan lengan" puisi dari Shanty Ruby ini saya kira cukup berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut oleh Shanty Ruby. Ini puisi yang saya kira menarik. Suasana terbangun, metafora terjaga dan kegelisahan sang penyair juga digambarkan dengan jelas.

Puisi Ivanasha Adani Prasetianti juga cukup melukiskan suasana cinta yang begitu hangat, jelas dan greget seperti dalam cuplikan puisinya ini, "Rindu, jatuhkanlah gerimis pada mataku daripada kau gigilkan aku, kian hebat, ketika aku, tak juga sampai pada lenggannya" jelas dan padat. Saya deg-degan membacanya. 

Tiba-tiba di saat saya sedang membaca karya Shanty, Alra, Imam, dan Ivanasha itu, saya kedatangan satu puisi berjenis klasik, puisi ini berjudul "Cermin Mati" karya Mamaw, jujur saya suka puisi Mamaw ini. Pertama jenis puisi ini harus benar-benar konsentrasi saat menulisnya. Karena kekuatannya pada unsur bunyi dan metrum, lalu yang kedua dari 150 puisi yang ngirim ke saya, hanya puisi Mamaw yang berbeda karakter dari puisi-puisi yang masuk.

Jenis puisi Mamaw, adalah salah satu bentuk jenis puisi pada era zaman Pujangga Baru, jenis puisi yang trend pada tahun 1930 s/d 1940 era dimana penyair Indonesia Amir Hamzah menghasilkan puisi merdunya berjudul "Buah Rindu" dan "Nyanyi Sunyi", era dimana Penyair Sanusi Pane menghasilkan puisi syahdunya berjudul "Puspa Mega" dan "Madah Kelana". Mari kita simak cuplikan puisi "Cermin Mati" karya Mamaw.
.............................................
hinalah raga disadur malam,
gelap gulita larut dalam kelam,
terombang ambing riuh kepala,
jiwa terjaga bernyala-nyala,

tak ada hamba yang murni,
pada dunia berlumpur tirani,
nyali menjadi bisa,
tubuh terlelap lupa rasa,

.........................................

Di saat sedang asyik-asyiknya membaca puisi Mamaw, tiba-tiba saya bertemu satu puisi yang membuat saya greget, yaitu puisi berjudul "Hujan" karya YudithTri Susetio, puisi ini, bisa saya katakan puisi berjenis ganda, bercampur aduk, bertipograf prosais, dalam hati saya bertanya-tanya, si penyair ini, agak cerewet dalam melukiskan suasana puisinya. Pembentukan Tiprografnya juga kurang menarik, unsur puitiknya menjadi cair dan apa adanya. Tapi kekuatan puisi Yudith Tri Susetio, terletak pada nafas puisinya yang panjang seperti seorang pelari yang tak kenal istirahat.  "Kata maaf yang sejatinya sakti sudah tak lagi mengobati luka di hati. Kata cinta yang sejatinya hangat sudah tidak lagi menghangatkan. Alih-alih mencairkan.

Ooh, hati mereka yang sama-sama kosong.
Menunggu diisi hujan.
Hujan kurang ajar" .

        
***
            '
'Sedemikian susah menulis puisi tentang kerinduan yang benar-benar melukiskan rindu pada satu tujuan, satu harapan. Bisa-bisa tercebur pada kalimat -kalimat yang miskin makna", ujar Penyair kenamaan dari United Kingdom, Alfred Tennyson. Tapi sepanjang pengamatan saya, ada juga satu dua buah puisi yang menurut pengamatan saya berhasil dalam melukiskan kerinduan yang sebenarnya, rindu  menggebu-ngebu dan tidak basi.

Puisi karya Rivai Hamzah, berjudul "Rindu, Masih Salahmu" citraan-citraan diksi terjaga dalam rancang bangun suasana, begini bunyi puisinya " Mencintaimu membutuhkan ketabahan, seperti pohon-pohon yang pasrah ditebas tukang kayu. Dibuatnya batang pohon  menjadi apa saja; rumah, puisi serta rindu. Aku ialah pohon di halaman rindumu "

Dan juga terlihat jelas pada  puisi Azizah "Ditubuhmu, Aku Berlindung" Di tubuhmu aku berlindung. Di matamu aku terjatuh. Di bibirmu aku berlabuh. Semua itu karena perkara rindu. Yang tak pernah hilang darimu."  dan diselesaikan dengan baik oleh puisi "Trilogi Kasih Sepanjang Hari" karya Imamoko dengan cuplikan puisinya yang manis " Berbincang denganmu, Kekasih. Seperti air mengalir menuruni dedaunan. Bersenda gurau denganmu, Kekasih seperti semilir angin  membuat ilalang menari" Di dalam puisi Rivai, Azizah dan Imamoko tidak ada hal yang dibuat-buat, mereka seperti menulis dengan hati dan pikiran yang terjaga. Mungkin.

Saya ingin katakan puisi yang bagus, adalah puisi yang benar-benar kita alami dan kita rasakan suasananya. Agar puisi tersebut bisa hidup dan bernyawa. Ini saya rasakan terlihat pada puisi liris berjudul "Kisah Sepi di Stasiun Tugu" karya Astrajingga, saat membaca puisi karya Astra, saya bisa merasakan suasana visual yang dilukiskan oleh Astra, puisi ini menjadi hidup karena Astra menuliskannya sebagai berikut

"Sederetan bangku peron Stasiun Tugu
pasrah menyandarkan rindu dari lelah tunggu.
"kita mau kemana?" tanya tiket di balik jaket.
"terserah laju kereta saja." jawabku sekenanya,
sambil merogoh sabar di saku kemeja."

Puisi karya Astra menjadi hidup  karena saat menuliskan puisi ini tubuh Astra menyatu pada suasana stasiun Tugu. Ia betul-betul merasakan kesepian yang mencekam di sebuah kota yang jauh dari rumah asalnya.  Hal ini juga saya rasakan engahnya pada puisi berjudul "Di bawah Langit Malam Jakarta" karya Gilang. Berbeda dengan Astrajingga yang kesepian di sebuah kota yang jauh.

Puisi Al-Muhtadi berjudul "Hening pada Tanah yang Terluka" adalah kegelisahan Al-Muhtadi. Al-Muhtadi merasakan dengan batinnya,  peperangan yang terjadi di Palestina saat para pasukan Muslim melawan kebengisan zionis-zionis Israel.  Puisi ini, puisi kontekstual, berbicara tentang kekinian yang masih berlaku secara historis sampai kapanpun.  Al-Muhtadi melihat dengan kacamata puisinya, tentang sebuah pembantaian, pembunuhan, dan peperangan di Palestina, dengan kepekaannya sebagai penyair. Ia tidak menuliskan tentang rindu, atau bersunyi-sunyi ria, tapi ia mencoba merasakan apa yang penduduk Palestina rasakan. Al-Muhtadi berucap dalam cuplikan puisinya sebagai berikut" Batu-batu melayang di udara, di atas tanah, di atas perih, di atas segala merah yang memutih".

Dengan kepekaan intuisinya Al-Muhtadi melihat peperangan di Palestina sebagai apa yang ia tuliskan " Walau mungkin Bumi terlalu sempit bagi lapangnya dada kami. Biarlah dari surga kan menetes air yang menyejukkan duka kami" Karena Al-Muhtadi sepertinya tertarik dengan apa yang terjadi di Palestina. Saya sarankan untuk Al-Muhtadi membaca karya-karya puisi kenamaan dari Syria, yaitu Nizar Qabbani. Karakter puisi Nizar Qabbani, sangat indah sekaligus murung dalam menceritakan tentang Yerusalem lewat karyanya, mari sedikit kita simak cuplikan puisi penyair Syria, Nizar Qabbani " Aku bertanya tentang Muhammad dan Kristus Oh Yerusalem, aroma nabi. Jalur terpendek antara bumi dan langit. Oh Yerusalem, benteng hukum. Seorang anak yang indah dengan jari hangus dan mata putus asa" (dalam puisi berjudul Yerusalem). Wow. Walaupun penyair Al-Muhtadi bertubuh kekar, berambut cepak, sering nge-gym dan terlihat maskulin. Tapi sesungguhnya, hatinya sangat melankolis.
      
Sebelum menutup catatan pengantar singkat ini, saya ingin katakan untuk para penggagas Malam Puisi Depok, ini sesuatu yang indah dan puitis, menciptakan buku puisi di kota kita sendiri. Menghadirkan suasana hangat puisi di antara deretan mall-mall, supermarket, restoran, kafe dan toko elektronik yang berjubel tanpa ampun dan puisi hadir di celah-celah bangunan yang kokoh itu. Setidaknya, puisi sampai kapanpun dan dimana pun tetap terus dibaca, didiskusikan dan diamalkan. Dan sekali lagi selamat kepada mereka yang terpilih. Selamat hidup di dalam puisi-puisimu dan sebagai penutup, saya akan akhiri dengan puisi menjelang tidur, satu judul puisi indah dari penyair favorit saya dari Skotlandia,  Robert Burns (1759-1796)

A Red, Red Rose

O my Luve's like the melodie
That's sweetly play'd in tune.

As fair art thou, my bonnie lass,
So deep in luve am I:
And I will luve thee still, my dear,
Till a' the seas gang dry:


Till a' the seas gang dry, my dear,
And the rocks melt wi' the sun:
I will luve thee still, my dear,
While the sands o' life shall run.

And fare thee well, my only Luve
And fare thee well, a while!
And I will come again, my Luve,
Tho' it were ten thousand mile.


Salam hangat!


Cimanggis, Depok
19 Januari 2015
 Malam Hari, 00.56 WIB.


         


       




              

            
             

       








Minggu, 01 Oktober 2017

Pengantar Untuk Buku Puisi Kyai Yuyun Wahyudin

Memetik Kata-kata Cinta dari Pohon Puisi “GADISKU”

Oleh: Rendy Jean Satria


Akan kubakar gunung saljumu
dengan api cintaku, hingga menjadi abu
Kemudian lenyap dalam keabadian’
Cover Buku Puisi Kyai Yuyun Wahyudin
Pertengahan Juli Tahun 2004 silam, saat itu umur saya masih 14 tahun dan beliau berumur 30 tahun. Untuk pertama kalinya saya melihat sosoknya dari luar jendela rumahnya. Duduk di antara tumpukan buku-buku, arsip-arsip, lembaran-lembaran Koran, dan barisan kitab-kitab yang berserakan. Dua matanya hanya terpusat pada buku yang sedang dibacanya. Kegaduhan anak-anak santri baru di luar rumahnya, tampak tidak membuatnya risih atau terganggu. Dengan rambutnya yang sedikit acak, ikal, panjang, dan pakaiannya yang hanya menggunakan kaos oblong, membuat saya penasaran saat itu. Karena berbeda dari ustad-ustad lainnya.

Sesekali beliau menatap sesuatu dari bilik gordin jendela. Entah apa yang dipikirkannya. Mungkin ia sedang membayangkan Al-Ghazali, Attar, Sa’adi, Nizhami, Rummi, Firdausi, Hallaj, Syams Tabriz, Aristoteles atau gurunya K.H Wahab Muhsin.  Lalu setelah itu bisa dipastikan ia akan duduk kembali dan termenung di depan komputer tabungnya. Saya sering mengamati gerak-geriknya. Karena jarak rumahnya dengan kobong yang saya tempati kala itu, hanyalah berjarak 10 meter. Ingin menyapa tapi saya malu karena waktu itu saya baru saja masuk pesantren Al-Quran Al-Falah 2 Nagreg.  Sering kali saya saat makan sore tiba, saya sengaja makan di dekat tangga depan rumahnya di mana ia sering lewat dan saat itu saya pasti akan menyapanya dengan satu anggukan kepala dan buru-buru menyalami tangannya. Tapi tetap saja, waktu itu saya masihlah seorang bocah berumur 14 tahun yang malu-malu untuk bertanya sesuatu kepadanya tentang berbagai displin keilmuan.

Ruang kerjanya tidak begitu besar, sederhana tapi berisi. Di tembok-temboknya penuh dengan ratusan buku-buku, tampak sang empunya rumah adalah seorang kutu buku tulen, yang menaruh minat besar pada dunia kata-kata, dunia buku, dunia sastra tempat dimana kegelisahan menjadi sangat indah. Kemudian hari akhirnya saya mengetahui namanya dari papan jadwal pengajian rutin harian yang sering ditempel di majalah dinding asrama pesantren. Di situ tertera nama beliau, Yuyun Wahyudin. Saya diberitahu oleh kawan se-asrama, kalau orang yang sering saya tanyakan itu bernama Pak Uyun.  Di kemudian hari saya pun sering mengunjunginya di kala senggang. Khususnya saat malam hari tiba, setelah pengajian malam selesai. Diam-diam saya sering mengetuk pintu rumahnya. Dan bertanya ihwal apapun, dari filsafat, tasawuf, dan puisi. 

Keluasan ilmunya dalam kajian sastra Arab, memudahkan Pak Uyun memasuki mutiara-mutiara hikmah di dalam kitab kuning yang ditulis oleh para ulama beratus-ratus tahun lalu. Kajiannya yang mendalam tentang kitab kuning, juga bahasa Arab, tak lepas dari kegilaannya beliau terhadap ilmu pengetahuan yang ia serap dari beberapa kyai-kyai di pesantren Jawa Barat. Lelaki yang lahir di Tasikmalaya, 42 tahun yang lalu itu, berguru di kampung Ciomas dengan Ajengan Mumu yang sangat disegani. Setelah ia menyerap mata air keilmuan Ajengan Mumu, Pak Uyun segera mengaji kembali di pesantren K.H Wahab Mukshin Sukahideng, Tasikmalaya. Di pesantren Sukahideng ini, saya rasa ia memulai menempa semangatnya dalam dunia tulis menulis. Termasuk puisi dan mulai mengenal secara serius buku-buku puisi yang ditulis penyair Emha Ainun Najib dan sajak-sajak W.S Rendra yang terbit tahun 90-an.  

Belum puas, hanya belajar ngaji di pesantren, Pak Uyun kembali menguji keilmuan sastra dan bahasa Arabnya di UIN Bandung. Lalu akhirnya ia mengabdi di pesantren Al-Falah 2 Nagreg. Alam Tasikmalaya yang puitis sekaligus hening membuat dirinya tumbuh menjadi seorang penyair. Untuk merekam semua kenangan-kenangan itu, Pak Uyun sempat mengeluarkan buku puisi berjudul “Nothing, Tafsir Nyanyian Sunyi” pada tahun 2008 silam, buku puisi itu terbit secara edisi terbatas.

*        

Yuyun Wahyudin, seorang guru yang sangat berpengaruh kelak bagi perkembangan jalan kepenyairan saya dan sebuah nama yang saya sering sebut di mana-mana. Sebagai “ajengan puisi” saya pertama. Guru yang cukup bijak, istimewa, dan filosofis untuk saya. Cara pandangnya dalam melihat sesuatu sangat toleran. Cara bertutur sangat santun, berilmu, dan berwawasan luas. Sikapnya yang sering kali pendiam, mencerminkan sikap ketawadu’an, rendah hati. Bacaan-bacaan tasawufnya, benar-benar mendarah daging kepada sikap-sikapnya.

Secara pribadi, saya melihat Pak Uyun mempunyai apa yang disebut dalam budaya pesantren dikenal istilah Khoriqul ‘Adah. Istilah tersebut biasanya berkenaan dengan sikap hidup seorang santri yang nyentrik, aneh, dan diluar kebiasaan pada umumnya. Berbeda dari para santri-santri kebanyakan. Saya sudah melihat ciri-ciri itu pada beliau. Semenjak saya masih kelas 1 Aliyah. Rambutnya yang gondrong, tangan yang sering dihiasi gelang karet, dan kegemarannya membaca kajian-kajian filsafat dan puisi. Membuat saya betah berlama-lama ngobrol dan sorogan  dengan beliau. Malam hari adalah momen yang tepat bertemu dengan orang-orang yang mempunyai sikap Khoriqul ‘Adah itu. Biasanya para santri yang mempunyai sikap Khoriqul ‘Adah, mempunyai bakat unik diluar kebiasaanya mengaji di pesantren. 

Ajengan Gus Miek dari pesantren Ploso Kediri, Gus Dur dari pesantren Lombang, Gus Mus dari pesantren Rembang, Emha Ainun Najib dari Jogjakarta, KH. Acep Zamzam Noor dari pesantren Cipasung, KH. Ahmad Faisal Imron (yang juga sepupu Acep Zamzam) dari pesantren Ciparay Baitul Arqam, Ajengan Fauz Noor dari pesantren Fauzan. Mereka adalah nama-nama yang indah bagi saya ketika saya masih remaja. Beruntung bagi saya di antara mereka sebagiannya saya pernah mengenal mereka secara dekat dan tinggal beberapa hari di pesantren mereka. Selain sikap mereka yang nyeleneh, mereka juga masih setia mengajar di pesantren mereka masing-masing dan jadi Kyai yang dihormati di kampungnya masing-masing. 

Mereka mempunyai perilaku-perilaku Khoriqul ‘Adah yang tidak dibuat-buat, melainkan mengalir dan ini terbukti dari karomah-karomah mereka yang mempunyai santri ratusan bahkan ribuan. Doa-doa mereka diharapkan, kedatangan mereka juga ditunggu-tunggu saat memberikan ceramah. Nama-nama mereka pun dikenal luas secara nasional dan internasional. Dan Yuyun Wahyudin adalah mata rantai terkini dari silsilah Khoriqul ‘Adah tersebut.


*

Yuyun Wahyudin adalah salah satu seorang penyair yang lahir dari pesantren. Seorang ustad yang selama kehidupannya diisi dengan mengajar, meneliti, membaca, dan menulis. Dan menulis puisi adalah salah satu bagian dari hidupnya dan kini “ajengan puisi” saya tersebut menerbitkan buku puisi GADISKU. Sebuah kumpulan puisi yang sarat dengan keindahan, ketulusan, keiklasan yang kesemuanya bermuara pada satu hal yang paling tinggi yaitu untuk mengangkat ‘piala cintanya’. Disamping beberapa puisi Yuyun Wahyudin juga mengangkat isu-isu politik dan kasus sosial yang berkembang di Indonesia.

Perpaduan antara metafora, pilihan kata-kata dan tema saling menguatkan bangunan puisi-puisi dari Yuyun Wahyudin. Tak muluk-muluk tapi mengena dan mempunyai arti tersendiri bagi sang penyairnya. Membaca puisi Pak Uyun, Kadang kita dihadapkan pada sebuah pertanyaan, kadang juga sebuah kesedihan, kebahagiaan yang mendalam. Kejujuran sangat terasa intens di dalam serpihan puisinya. Jujur dalam segi ungkapan akan membuat satu kesatuan yang kuat dalam mendeskripsikan sesuatu yang puitis. Mari kita simak bait pertama dari puisi Gadisku (2) :

Hari itu
di rumah Tuhan
Aku menikahimu, gadisku
dengan maskawin
sebuah puisi
yang kutulis
dalam mimpi
(Puisi Gadisku 2)        

Segera pembaca diberi sinyalemen oleh sang penyair, kalau puisi ini begitu manis, romantik, dan terbuka. Kata-kata dalam puisi-puisi Yuyun Wahyudin, hadir begitu saja, tanpa ada penanda-penanda yang menganggu, hadir sebagai suatu pengalaman yang kongkret. Yuyun Wahyudin, pertama-tama terpukau dengan kecantikan seorang gadis. Semua itu hadir dalam sebentuk pengalaman riil. Jadi tak heran, pengalaman estetik cintanya, itu membuat malaikat cemburu:

Sementara
Malaikat
cemburu melihat
kemesraan kita
(Puisi Gadisku 2)

Lalu, aku lirik berusaha menjelaskan dan mempertahankan kepastiannya dalam mencintai sosok gadis tersebut:

Karena
Hari itu
di rumah Tuhan
aku membisikan
cinta padamu
(Puisi Gadisku 2)

Sebagai pencinta yang sedang dimabuk anggur cinta, dalam pandangan Yuyun Wahyudin hanya tertuju pada sosok gadis di hatinya. Kehidupan selain sang gadis, tak menarik perhatiannya. Pikirannya terpusat padanya. Ia berusaha mencari pencerahan di dalamnya. Walau kadang jalan yang ditempuh sunyi dan sepi. Dingin dan hangat. Penuh sangsi sekaligus rawan patah hati. Ia takut kalau ada yang mengambil ‘hak paten’ cintanya itu. Tapi, Yuyun Wahyudin seperti sudah paham betul tentang hidup yang ia kembarai.

setelah sekian lama
tak bersua
terpisah jarak waktu
Di gerbong itu
kita berdiri
tanpa mempedulikan
ribuan pasang
mata orang
yang memandang
penuh kecurigaan
seakan mereka
mau merampas dirimu
dariku
(Puisi Kereta 1)

Seekor semut hitam
jatuh di pangkuan
kerudungmu
telah membuatku
cemburu:

Awas jangan sentuh kasihku
jika tak ingin bermusuhan
sebab tak seorang pun
akan ku ijinkan
menyentuhnya
selain diriku
sendiri
(Cemburu 2)

Tak sampai di sana, kegelisahan Yuyun Wahyudin juga semakin menjadi-jadi. Agaknya, bagi beliau selain sosok gadis ‘puitis’ itu, ada lagi yang membuatnya terpukau. Untuk mencapai puncak spiritual yaitu keagungan dari Yang Maha Akbar, Yuyun Wahyudin membuat satu jembatan yang kuat. Ia coba menjalin satu kawat ruhani antara sosok gadisnya dan sosok Tuhan. Mari kita renungkan salah satu puisinya yang berjudul Mabuk Cinta:

Nikmatilah kegilaanmu segera
karena telah menganggap cinta sebagai tuhan
hingga kau terbangun
dari kegilaan mimpimu

‘Kegilaan’ dalam sebahagian dari diksi-diksi puisi para penyair sufi di masa lampau adalah bagian dari keindahan abadi dalam menemukan sosok Yang Maha Akbar yang juga berimbas pada sikap hidup para penyair yang sufi, yang nyentrik, zuhud sekaligus aneh. Rupa-rupanya Yuyun Wahyudin terkena ‘virus kegilaan’ pada satu sosok yang paling misterius di jagat raya ini.  Diksi-diksi anggur, mabuk, melodi, akal, tarian, malaikat, dawai, sayap-sayap, bertaburan dalam beberapa puisi-puisi Yuyun Wahyudin yang mencoba memberikan ‘ruh’ pada puisinya untuk segera menjadi ayat-ayat hasrat, untuk menyapa-Nya, menyalami-Nya dan berikrar sebagai seorang hamba :

Cintaku padamu
Cinta langit pada bumi

Rinduku padamu
Rindu siang pada matahari

Hasratku padamu
Hasrat Majnun pada Laila

Kesetianku padamu
Kesetian Rama pada Sinta

Tangisanku untukmu
Tangisan embun pada melati

Nyanyianku untukmu
Nyanyian hidup dan mati
(Ikrar Cinta)

Cijawurah, Bandung 25 Februari 2016