Senin, 07 November 2011

Antologi Puisi "Beternak Penyair"

Nama penyair berikut judul puisi untuk antologi "BETERNAK PENYAIR" kerjasama HYSTERIA,SEMARANG dengan Dekase 



1. IRIANTO IBRAHIM
 Reportase Kematian
Tentang Perjalanan 

2. ROMI ZARMAN
Sebelum Kupu-Kupu
Surat Attar

3. SEMMI IKRA ANGGARA
 Beternak Penyair

 4. RAGIL SUPRIYATNO SAMID
 Maghrib
Doa

5. KEDUNG DARMA ROMANSHA
 Panggung Lelucon
Mengukur Bayang

6. A. MUTTAQIN
Padi
Petani


7. RENDY JEAN SATRIA
 Pagi Hari Dan Sepotong Kue
Kepada Rebana Adawiyah


8. ARDY KRESNA CRENATA 
wajahmu di mataku
menyimpan kembali wajahmu


9. SYAIFUDDIN GANI 
 Di Padang Konda
Mawar Kuning Untuk Ibu

 10. ROZI KEMBARA 
Malam Ini Matamu Mengepulkan Bau Peperangan
Ode Dari Kolong Langit


11. YOPI SETIA UMBARA 


Sajak untuk Lembang
Pada Sebuah Petang


12. ABDUL ROCHIM S


Benalu


13. MUJI SASMITO


Mendung Pagi


14. GURI RIDOLA


Berjuang Mengingat


15. JENNY RAHMAT TAUFIKA


Tunggu Aku Bicara


16. NWU GABRIEL GENESIS


Telapak & Anjing 3



17. ARIF FITRA KURNIAWAN


Pengemis
Siklus Rasa Lapar


18. DONY P. HERWANTO


Kutulis Puisi di Hari Ulang Tahunmu
Perjumpaan


19. GANZ PECANDUKATA


Tentang Jendela Dan Debu
Tentang Pohon Jambu Di Teras Rumah


20. PRINGADI ABDI SURYA 


Hujan, Sampaikan Padanya
Ramalan Cuaca


21. Ryan Rachman


Gunting
Penyair dan Akuarium


22. ULLYL CH


eksotika malam


23. FAISAL SYAHREZA


Surat Kenduri
Kampung Halaman


24. M. RIF’AN FAJRIN


Memahami Mimpi-mimpi


25. ESHA TEGAR PUTRA


Roti Gandum dan Coklat Panas
Belajar Pulang


26. IBRAHIM BRA


Pintu belakang



27. PUTRI NARITA PANGESTUTI 


Carut Marut


28. FAIS TOPLES


Maulida Safia 
Sajak Pertemuan


29. GALIH PANDU ADI


Isa
Anak-anak di Petang 


30. QURANUL HIDAYAT


Bedil di Sakumu


31. Janoary M. Wibowo


Sebelum Gerbang
Pada Sebuah Belokan


32. M. ROYAN 


Bumi Khayangan


33. EL NUGRAHAENI


Di teritis rumah kulihat kau bercerita sambil menari
Sungai yang berhulu di bulan


34. SULUNG PAMANGGIH 


kerinduan yang bijaksana



35. WIDYANURI EKO PUTRA 


kamar yang begitu rapi


36. INDRIAN KOTO


Dalam Hujan
malam di semarang



37. NH TAUCHID


Menyatu



38. SONY OOS KUDUS


1 (orang)


39. GUSMEL RIYADH 


biografi rasa lapar dan foto keluargamu yang terbakar
Dua Bajingan Kecil



40. DEA ANUGRAH


Jendela-Jendela Lapuk
Sajak Perpisahan



41. SYAIFUL BAKRI


Kereta Ekonomi



42. ANNISA


Aksara Laut


43. LANGGENG PRIMA ANGGRADINTA


Empat Ribu Tujuh Ratus Dua Sajak untuk Laila
Kredo Penyair dan Sajak-sajaknya yang Mentah



44. MUSYAFAK TMUR BANUA


Tiga Sajak Risalah Bambu



45. BODE RISWANDI


Penunggang Kuda Waktu
Sepanjang Perjalanan



46. BAGUS TAUFIQURRAHMAN


Ibu kota
kau masih tidur berselimut kapur barus


47. ABDURRAHMAN MOHAMAD


Lelaki yang Datang Saat Gerimis
Perihal Rambut


48. WIKA SETYAWAN


Kepada Seorang Kawan
Aku Laut

49. EKO PUTRA


Sumur 
Barangkali Beginilah



50. SIGIT IRAWAN


Dendam Pasir Putih

51.  FITRIANI


di tepi kolam
aku kembali menemu tiang


52. Eri tanpa nada


Tanpa


53. AAN MANSYUR


Lima Sajak Kecil tentang Rindu
Obituari dan Permohonan Maaf


54. MISBAHUL MUNIR


Pada Sepotong Senja



55. ANDY SW


jangan menangis lagi ya...


56. BENO SP


dongeng
status


57. JOKO BIBIT


Banjir 1
Sejangkal Maut atawa Abimanyu Ranjap


58. SETIA NAKA ANDRIAN


pelaku jinak
kapal dan pedagang ikan



59. KURNIAWAN YUNIANTO


Memahami Sawah
Ke  Muara



60. RIDWAN MUNAWWAR

Labirin kota-kota


61. GEMA YUDHA


Kisah lebam
Babad hujan


62. YUSWINARDI


Percakapan tentang Diana krall*


63. LANANG WIBISONO


Kepada meth


 64. VIVI ANDRIANI


Akhirnya kata


65. Yudhi herwibowo


Kisah : arca-arca yang pandai menari


66. HERI MAJA KELANA


Langkah Pulang


67. MUHAMMAD AYATULLAH (MAYAT)


Rumah hening


68. Adin 


Pulang
Ziarah


69. Ibrahim Barsilai Jami


Padamu, Tuhan


70. KIDUNG PURNAMA


Pantai parmisan
Tangkuban perahu


71. YAYAN R TRIYANSAH


Sajak bulan maret 1


72. NOBINOBI


Perjalanan yang merindu


73. NANA ERES


Perempuan kedua



74. BUDI SETYAWAN


Ritmis Gerimis



75. BHREWIJAYA


Di halte
Peta


76. ERNA HERNANDIT


Pelacur matahari


77. HUDAN NUR


Matra kompleksitas


78. YP. THENDRA


Tak ada yang bersalin
Kepada A

Jumat, 02 September 2011

Nagreg dan Seribu Kunang-Kunang





Jalan lurus itu kini ditumbuhi beberapa pohon jati
tempat dimana dulu kita pernah berjalan membawa
kitab-kitab kuning menuju langgar yang terbuat dari bambu
lahan kosong yang letaknya tidak jauh dari balong itu
kini telah rampung, di bangun semacam pendopo
untuk pembacaan barjanzi dan muhadarah. Biasanya dulu,
di tempat itu kita sering menghafal imriti, melihat ribuan kunang-
kunang dan menyalakan api unggun untuk membakar ubi-ubian
Cileumbu

Setiap malam, dari dalam kamar kita selalu saja mendengar
bunyi kereta api melintas dengan tergesa-gesa membawa beban
muatan, berbarengan dengan para thaqosus menghafal bait-bait
merdu alfiyah, ketika kabut membisu, bunyi cengkerik dan katak
menafsirkan malam dengan caranya yang santun. Dari arah jendela
kita selalu saja menghitung kunang-kunang yang menghampiri
mungkinkah kunang-kunang itu takdir kita yang masih berwujud
samar-samar?

Di tempatmu yang teduh, sambil bersiul diam-diam, kita semakin
tersendiri, bersama obor yang kunyalakan, tatapanmu membuatku
gemetar, dan jalan setapak ini, kian menjadi epitaf bagi seribu kunang-
kunang yang muncul dan pergi. Ladang-ladang tebu itu pun, kian samar
kiasan dan juga metafor-metaforku direstui kubah masjid
di bawah langit merah dan kunang-kunang itu terus bergerak dari makam
ke makam

2011.






Minggu, 14 Agustus 2011

Jembatan Panjang, Cisaruni

Bahkan di situ, di jembatan panjang
seorang telah sampai padamu

Membawa kotak hitam yang berisi
kecemasan

Retakan-retakan jembatannya yang sudah
lama berlumut, kusinggahi seperti
menziarahi masa lalu dan masa depan

Kutemukan serpihan ruang
di bawah sungai yang mengalir
di air terjunnya yang mengendap-ngendap
di bawah tanah

Kusimpan segala percakapan demi percakapan
ketegangan demi ketegangan
di atas jembatan,di bawah langit merah

Mungkin akan sampai seseorang di tanahmu
membawa kotak hitam yang berisi kecemasan

2011

Ciharong

Pergantian musim

kupahami seluruh  ingatan
yang itu-itu juga

Suara-suara aneh
dalam hati. Gerak awan
yang melingkari tubuhku

Dan dinding hutan tanpa nama
yang di belah oleh sungai
yang berwarna kekuning- kuningan

Pergantian musim ini
Aku berjalan menujumu
di atas rel kereta yang terapung
di antara dua bukit kembar

Seluruh ingatanku berlepasan
kubayangkan sebuah lembah
yang jauh dan kebahagian
sebagai seorang pelancong

yang sudah lama
berenang dalam kata
dan merenung bak filsuf


2011

Kamis, 07 Juli 2011

Teori Bulu Kuduk AZN

                                                              Oleh Rendy Jean Satria


“Puisi tak sesederhana buang ingus di trotoar
Menulis puisi butuh kekhusyuan, penghayatan
Pengendapan dan pendalaman”
(Acep Zamzam Noor, hal 206)


Bagaimana seharusnya menulis puisi yang baik? bagaimana kiat-kiatnya menjadi seorang penyair yang baik, yang tidak bernafsu mengejar popularitas saja melainkan harus butuh kesabaran dan intensitas kekhusyuan untuk mendapat gelar mulia itu? bagaimana menghadirkan semangat pemicu kreatifas untuk menulis puisi? bagaimana ukuran seseorang seharusnya menilai puisi yang baik? apa yang mendasari Acep Zamzam Noor (AZN) pada akhirnya secara guyon menemukan sebuah teori “bulu kuduk” dalam percaturan sastra puisi Indonesia, yang banyak “diamini” para pengamat sastra? apa juga yang mendasari Acep Zamzam Noor, banyak menganti nama penyair-penyair muda yang datang kepadanya? Acep Zamzam Noor, seperti menemukan jawabannya sendiri yang ia tuangkan, di dalam sebuah buku barunya yang berjudul “Puisi Dan Bulu Kuduk” sebuah buku yang menghimpun 26 esai yang renyah, ringan, padat dan menggoda. Perihal apresiasi sastra dan proses kreatif. Acep, dengan kaca mata pisau “bulu kuduknya” menangkap, menganalisis dan mengungkapkan pikirannya dengan gaya khasnya mengenai puisi dan tentang moment-moment tertentu tentang makna kepenyairan, pertemuan dan teman-teman sebayanya, dalam satu kesatuan tulisan yang gurih untuk di baca. “Cep, teori bulu kudukmu itu perlu diterbitkan biar akedemisi mendapat pencerahan” kata kritikus sastra, Maman S.Mahayana, suatu ketika. Yang menjadi awal buku ini di terbitkan

Acep Zamzam Noor, di dalam buku esainya tersebut menegasikan dengan tegas mengenai pokok permasalahan yang sangat sakramen tentang puisi dan beberapa masalahnya. Puisi, sebagai media maupun puisi sebagai ruang sakral baginya, selama ini menjadi satu permasalahan yang sangat penting untuk di bicarakan olehnya. Ia masih percaya pada kekuatan puisi, masih terus setia mendalami, menyelami “kekharismatikan” puisi yang pernah ia sebut “sebagai mahluk aneh” itu. 26 esai, tersebut kebanyakan adalah tulisan-tulisannya sewaktu memberi kata pengantar pada antologi puisi, paper pada sebuah seminar kesusastraan nasional maupun internasional dan ada juga beberapa esai yang pernah di muat di beberapa media.

Teori “bulu kuduknya”, tidak terlalu cendekia, malah terlihat guyon. Tidak terlalu ilmiah, tapi butuh perenungan. Dengan begitu,  teori “bulu kuduknya” meruang ke dalam ruang-ruang sastra yang selalu terlihat serius, ia mencoba membuat kegairahan yang baru yang piramidal, melebur dengan teori-teori kesusastraan barat yang senantiasa membuat kita terpesona. “puisi yang baik, adalah puisi yang membuat bulu kuduk saya merinding” cetus Acep Zamzam Noor, suatu ketika. Orang bisa saja, menolak gagasan Acep, tentang teori bulu kuduknya. Dengan begitu, ada semacam dialektika yang di bangun, ada penyanggahan. Karena Acep Zamzam Noor, bukanlah seorang kritikus sastra. Ia seorang penyair dan pemikir kesusastraan, yang ingin menyampaikan sesuatu yang segar, tidak muluk-muluk. “penyair tak lain adalah pemikir, karena dia penanya” kata Prof. Jakob Sumardjo, dalam kata pengantar buku tersebut      

Acep Zamzam Noor, memang tidak pernah sama sekali menerbitkan tulisan-tulisan esainya dalam bentuk buku yang menurut pengakuannya sendiri di dalam kata pengantar, ia seperti tak punya keinginan kuat atau niat menulis sesuatu di luar puisi. Jadi dengan kata lain, selain merindukan puisi-puisi Acep Zamzam Noor, kita juga menantikan esai-esai yang di tulis olehnya. Secara pas dan gamblang dengan tidak memihak kepada golongan tertentu. Ia dengan kepekaan intuitifnya sebagai seorang penyair, mampu menghadirkan esai-esai yang objektif dan riil. Dimana, di dalam esainya ia dengan berani mengkritik, sekaligus memuji  puisi-puisi Goenawan Mohamad, yang pernah muncul pada edisi bulan juli 1990, (sepuluh puisi Goenawan Mohamad, hal 42) yang menurutnya, kemunculan puisi Goenawan kali ini, tidaklah terlalu istimewa karena kita terlalu berharap mengenai sesuatu yang baru darinya.  Ia juga mengambarkan, sosok Saini K.M (Posisi Saini,  hal 32) yang ia kupas panjang lebar adalah ahlak dari Saini sebagai kiblat untuk calon penyair dan ia juga membahas secara detail puisi-puisi Saini seperti Nyanyian Tanah Air, Kepada Penyair Muda dan Kota Kelahiran,  yang membuat bulu kuduknya sampai berdiri

AZN dan “teori bulu kuduknya” juga merambah ke persoalan mengenai bagaimana menumbuh kembangkan semangat kreatifitas (kreatifitas dan pemicunya, hal 210) salah satunya yang pernah di lakukan kelompoknya yaitu SST di Tasikmalaya pada tahun 2004 sebuah upaya merespon pemilu raya di Tasikmalaya. SST meresponnya dengan cara kreatif dengan mengadakan konvoi menggelar pembacaan puisi dan workshop, yang di beri nama “penyair memilih puisi dalam pemilu 2004”. Di dalam sebagian esai-esai Acep, kita juga di ajak olehnya. Mengembara ke dalam romantisme pengalaman yang menggoda tentang teman dan sahabatnya. Ia pernah sangat kehilangan sangat mendalam, ketika sahabat karibnya, penyair Beni R. Budiman meninggal dunia 2002 silam, (BRB, hal 103). Ia juga tersentak kaget, saat seseorang meminta kepadanya memberi pengantar dalam buku puisi Irzadi Mirwan (in memoriam Irzadi Mirwan hal 110), mahasiswa ITB dan aktivis yang meninggal dunia di sebuah gunung di Jawa Barat pada tahun 1981 silam, yang ternyata di masa mudanya juga menulis puisi.


Esai-esai dari Acep Zamzam Noor, memang menghadirkan sebuah sisi keintelektualan dari penulisnya sendiri yang memang sudah di kenal terlebih dulu sebagai penyair dan pelukis. Puisi-puisinya dan karya lukisannya, seperti juga esai-esainya, selalu menghadirkan sebuah kejujuran, kesederhanaan dan juga kekayaan pengalaman darinya. Tulisan esainya seperti pemandangan lanskap yang sejuk, angin sepoi-sepoi yang mampu membuat bulu kuduk pembacanya berdiri. Kumpulan esai, “puisi dan bulu kuduknya” adalah sebuah tawaran darinya, perihal kesusastraan dan konsep dasar perihal puisi yang baik yang mampu membuat bulu kuduk pembacanya berdiri. Teori bulu kuduknya, tidak sampai menjelimetkan pikiran, tidak perlu catatan kaki saat memikirkan teori bulu kuduknya. Acep Zamzam Noor, sudah melebihi pada tahapan itu. Esai-esainya semacam sebuah pembuktian darinya. Bahwa diam-diam, ia juga penemu teori kesusastraan yang nantinya pasti banyak diamini orang. ***


Bandung, 7 Juli 2011